Hari-hari yang Paling Dicintai Allah untuk Beramal Sedang Berjalan

Caption: Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd Sekretaris PCNU kota Subulussalam, foto dokumentasi Istimewa. Seegap.co.id/M.Adhar, Selasa (19/05/2026).

SERGAP.CO.ID

SUBULUSSALAM, ACEH, || Banyak orang menunggu momen tertentu untuk berubah menjadi lebih baik. Ada yang menunggu Ramadan, ada yang menunggu tahun baru hijriah, bahkan ada yang menunggu “waktu luang” untuk mulai memperbaiki diri. Padahal, dalam Islam, salah satu momentum terbesar untuk memperbanyak amal saleh sedang berlangsung saat ini: 10 hari pertama bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Bacaan Lainnya

Momentum ini bukan sekadar tradisi tahunan umat Islam, tetapi fase istimewa yang secara langsung dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah SAW. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ ۙ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi waktu fajar, dan demi malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1-2)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “malam yang sepuluh” adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. Ketika Allah bersumpah atas suatu waktu, hal itu menunjukkan besarnya kemuliaan dan nilai spiritual di dalamnya.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding hari-hari tersebut. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari disebutkan:

«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ»

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini.”
(HR. Bukhari)

Pesan agama sebenarnya sangat jelas: Dzulhijjah adalah “musim pahala” yang datang hanya sekali dalam setahun. Namun di sisi lain, realitas masyarakat modern justru memperlihatkan hal berbeda. Banyak umat Islam yang mengetahui keutamaan Dzulhijjah, tetapi tidak sedikit pula yang melewatkannya begitu saja karena kesibukan, rutinitas, hingga dominasi urusan duniawi.

Di tengah derasnya aktivitas sehari-hari, gema takbir yang seharusnya menghidupkan suasana ruhani kadang hanya terdengar sekilas di masjid atau media sosial. Imbauan memperbanyak ibadah sering kalah oleh hiruk-pikuk pekerjaan dan hiburan digital. Akibatnya, momentum spiritual besar ini tidak memberi dampak berarti bagi sebagian umat.

Padahal, amalan yang dianjurkan pada hari-hari ini tergolong sederhana dan dapat dilakukan siapa saja. Mulai dari memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, hingga menjalankan puasa sunnah Arafah pada 9 Dzulhijjah yang dijanjikan dapat menghapus dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah SAW bersabda:

«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»

“Puasa Arafah aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”
(HR. Muslim)

Bagi yang mampu, ibadah qurban juga menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Di Aceh sendiri, pemerintah melalui Dinas Syariat Islam telah mengimbau masyarakat untuk menghidupkan syiar takbir sejak 1 Dzulhijjah hingga hari Tasyrik. Langkah tersebut patut diapresiasi sebagai bagian dari menjaga identitas religius masyarakat Aceh. Namun, syiar tidak cukup berhenti pada seremonial. Nilai utama Dzulhijjah justru terletak pada kesadaran pribadi setiap Muslim dalam memanfaatkan kesempatan emas yang telah Allah berikan.

Saat jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah, umat Islam yang berada di kampung halaman sejatinya tetap memiliki peluang besar untuk meraih pahala yang luar biasa. Islam tidak menjadikan keterbatasan sebagai penghalang untuk mendekat kepada Allah. Kesempatan beramal terbuka bagi siapa saja, di mana saja.

Karena itu, yang menjadi persoalan bukan lagi apakah waktu mulia itu ada atau tidak. Waktu itu sudah hadir. Persoalannya adalah apakah kita ingin mengisinya dengan amal saleh atau justru membiarkannya berlalu tanpa makna.

Dzulhijjah seharusnya menjadi momentum evaluasi diri di tengah kehidupan modern yang semakin menjauhkan manusia dari nilai spiritual. Hari-hari yang dicintai Allah sedang berjalan. Tinggal bagaimana umat Islam memilih untuk menyambutnya: dengan kesungguhan ibadah atau dengan kelalaian yang terus berulang.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk memanfaatkan 10 hari pertama Dzulhijjah dengan amal terbaik dan hati yang lebih dekat kepada-Nya.

(M. Adhar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *