SERGAP.O.ID
PROBOLINGGO, || Ketua DPW LSM Harimau, Muhammad Arif Billah, menyoroti sikap Gerakan Pemuda Ansor yang dinilai terlalu reaktif dalam merespons kasus dugaan kekerasan antara guru dan santri yang viral di Probolinggo.
Ia menilai, dalam menyikapi persoalan sensitif yang melibatkan dunia pendidikan dan tokoh agama, diperlukan kehati-hatian serta pemahaman utuh terhadap kronologi kejadian.
Menurut Arif, respons yang terburu-buru berpotensi menimbulkan persepsi yang tidak seimbang di tengah masyarakat.
“Ansor seharusnya bisa lebih bijak dan tidak terburu-buru dalam mengambil sikap, apalagi ini menyangkut marwah seorang guru atau kiai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mendukung segala bentuk kekerasan dalam proses pendidikan.
Namun demikian, Arif menilai peristiwa tersebut tidak bisa dilihat secara sepihak tanpa mengetahui penyebab yang melatarbelakanginya.
Oleh karena itu, ia meminta aparat kepolisian, khususnya Polres Probolinggo Kota, untuk menangani kasus tersebut secara profesional dan menyeluruh.
“Ini bukan hanya soal tindakan yang terlihat di permukaan, tetapi harus diungkap apa yang sebenarnya terjadi dan apa penyebabnya,” katanya.
Arif berharap penyidik dapat bekerja secara objektif tanpa adanya tekanan dari pihak mana pun.
Menurutnya, setiap proses hukum harus berjalan secara adil demi menjaga kepercayaan publik.
Ia juga menyinggung peran Ansor sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga ulama.
“Ansor dikenal sebagai penjaga para kiai, sehingga seharusnya mengedepankan kajian mendalam sebelum bereaksi di ruang publik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Arif berharap penanganan kasus ini tidak hanya mengedepankan aspek hukum formal, tetapi juga mempertimbangkan dimensi sosial.
Menurutnya, hal tersebut penting agar tidak berdampak pada kondisi psikologis para pendidik dalam menjalankan tugasnya.
Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa kepolisian mampu menyelesaikan kasus ini secara adil dan bijaksana, serta mengungkap fakta yang sebenarnya.
(Iwan)






