PCNU Kota Subulussalam: Idhul Fitri Bukan Hanya Sekadar Perayaan, Tapi Momentum Untuk Menjaga Nyala Api Kesalehan dan Memperbaiki Hubungan Antar Sesama

Caption : Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd. Sekretaris PCNU Kota Subulussalam, foto dokentasi Sergap.co.id/M. Adhar, Sabtu (21/03/2026).

SERGAP.CO.ID

SUBULUSSALAM – ACEH, ||  Gema takbir yang berkumandang menandai berakhirnya Ramadan sekaligus menjadi simbol kemenangan spiritual yaitu, kemampuan menjaga nilai-nilai Ramadan sampai sebelas bulan mendatang. “Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,”.  kata Ketua Pimpinanan Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Subulussalam Tgk. Maksum Solin Lc. S.Pd.I., melalui Sekretarisnya Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd, Sabtu Malam (21/03/2026).

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan Idhul Fitri merupakan momentum menyemai kebaikan dan meraih keberkahan, keberkahan hanya akan hadir pada hati yang terbuka dan pada mereka yang aktif menebar manfaat bagi lingkungan sekitar. “Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan,” terangnya.

Sambungnya, Idhul Fitri momentum hari kemenangan umat Islam itu disebut sebagai ruang refleksi sekaligus rekonsiliasi sosial yang relevan bagi masyarakat Indonesia.

Ia menegaskan bahwa Idhul Fitri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga sarana memperbaiki hubungan antarsesama yang sempat renggang akibat perbedaan pandangan maupun kepentingan.

Tgk. Agustari Husni menambahkan Idhul Fitri merupakan titik kembali pada kesucian setelah menjalani ibadah Ramadan. Dalam konteks sosial, momen ini membuka peluang untuk membangun ulang komunikasi yang sehat dan harmonis di tengah masyarakat.

Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idhul Fitri harus dimaknai lebih dalam, tidak sekadar simbolik. Ia menilai praktik memaafkan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam lingkup keluarga hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai memaafkan sendiri memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam, termasuk dalam Surah Ali Imran ayat 134 yang menekankan pentingnya menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Selain itu, Surah Al-Hujurat ayat 10 menegaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara yang harus didamaikan jika terjadi perselisihan.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya rekonsiliasi dengan melarang seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. “Idhul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membersihkan hati, menghapus dendam, dan membuka ruang rekonsiliasi sosial yang tulus,” imbuhnya mengakhiri

(M.Adhar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *