SUMBA TENGAH, NTT, || Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk mempererat ukhuwah dan saling memaafkan di tengah perbedaan. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat kepada jamaah di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, Jumat (6/3/2026).
Khatib mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membersihkan hati serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Dalam khutbahnya, khatib menyampaikan bahwa selama sebelas bulan terakhir mungkin ada kata yang melukai, sikap yang menyakiti, atau janji yang belum ditepati. Karena itu, Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan menyembuhkan hubungan yang sempat renggang.
Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 22 yang menyerukan agar umat Islam saling memaafkan dan berlapang dada, karena setiap manusia juga berharap mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Menurut khatib, salah satu hal yang sering menghalangi seseorang untuk meminta maaf adalah rasa gengsi, merasa lebih tua, memiliki kedudukan lebih tinggi, atau merasa tidak sepenuhnya bersalah. Padahal, di hadapan Allah semua manusia hanyalah hamba yang penuh kekhilafan.
Rasulullah SAW, lanjutnya, juga mengingatkan bahwa siapa pun yang memiliki kesalahan terhadap saudaranya hendaknya segera meminta maaf sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham, melainkan hanya pahala dan dosa yang menjadi penentu.
Khatib menegaskan bahwa menunda permintaan maaf dapat berakibat pahala amal ibadah berpindah kepada orang yang pernah dizalimi. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memulai lebih dahulu untuk meminta maaf tanpa menunggu diminta.
Selain memaafkan, Ramadhan juga mengajarkan pentingnya mempererat silaturahmi, seperti mengunjungi orang tua, menyapa tetangga, serta menyambung kembali hubungan keluarga atau sahabat yang sempat renggang.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung silaturahmi. Karena itu, khatib mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan kebersamaan.
Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk merendahkan hati, saling menghormati, serta membersihkan hati dari dendam, iri, dan kebencian, seraya memohon kepada Allah SWT agar amal ibadah puasa diterima dan hubungan antarsesama semakin harmonis.






