JAKARTA, || “Daftar high concentration shareholder akan kami buka agar struktur kepemilikan saham menjadi lebih transparan dan utuh di mata investor.”
Hal ini disampaikan Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, terkait rencana regulator menerbitkan daftar yang mengungkap potensi konsentrasi serta keterkaitan afiliasi dalam kepemilikan saham emiten.
Menurut Hasan, selama ini suatu saham bisa saja tampak memiliki free float besar dan terlihat tersebar luas di publik. Namun secara regulasi, tidak terdapat larangan apabila para pemegang saham publik tersebut ternyata memiliki hubungan afiliasi satu sama lain.
“Kalau sekarang free float-nya besar, memang tidak ada larangan bahwa di antara pemilik yang porsinya besar itu ada afiliasi atau konsentrasi. Publik bisa saja melihatnya seolah-olah tersebar luas,” ujarnya usai menghadiri acara CNBC Market Outlook 2026 di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang utuh di pasar. Secara administratif kepemilikan tampak tersebar, tetapi secara substansi bisa saja terpusat pada kelompok yang saling terafiliasi.
Karena itu, melalui daftar high concentration shareholder, OJK ingin memastikan informasi mengenai tingkat konsentrasi kepemilikan—misalnya hingga 95 persen—dapat diketahui secara terbuka oleh publik, termasuk apabila para pemilik tersebut memiliki keterkaitan tertentu.
“Jadi nanti menjadi terbuka. Misalnya terjadi konsentrasi 95 persen, walaupun pemiliknya banyak dan terlihat besar-besar, ternyata satu sama lain memiliki afiliasi,” jelasnya.
Hasan menegaskan, kebijakan ini bukan untuk membatasi transaksi ataupun mengintervensi mekanisme pasar. Tujuannya semata-mata menyediakan informasi tambahan agar keputusan investasi lebih rasional dan berbasis data.
“Investor sekarang punya informasi yang lebih dalam tentang potensi konsentrasi tersebut. Pada akhirnya, apakah tetap membeli atau menahan saham tersebut, tentu sepenuhnya menjadi keputusan investor,” tandasnya.
(Desy)






