LUBUK LINGGAU, || Proyek pembangunan dan revitalisasi Taman Simpang Lapter yang berlokasi di depan Kantor ATR/BPN Kota Lubuk Linggau menjadi sorotan publik. Proyek yang menggunakan anggaran APBD Kota Lubuk Linggau tahun 2025 dengan nilai kontrak Rp 1.456.171.000 tersebut menuai perhatian karena kondisi pengerjaan yang dinilai tidak optimal.
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan hanya beberapa pekerja yang terlihat aktif bekerja. Kondisi proyek tampak semrawut dan jauh berbeda dibanding awal pengerjaan yang sebelumnya ramai dan dikerjakan banyak tenaga kerja.
Informasi yang dihimpun dari warga sekitar menyebutkan bahwa pengerjaan revitalisasi taman tersebut diduga mengalami kendala, sehingga memengaruhi kenyamanan dan kelancaran para pekerja bangunan di lokasi.
Seorang pemilik warung sate di sekitar lokasi proyek, Masno, mengungkapkan bahwa para pekerja yang semula mengerjakan proyek tersebut telah berganti hingga tiga kali kelompok pekerja selama proses berlangsung.
Menurut penuturannya, sejumlah pekerja pernah meminta bantuan berupa penyediaan nasi karena belum ada kejelasan terkait konsumsi selama mereka bekerja, sehingga meminta agar sementara waktu dapat makan di warung tersebut dan melakukan pembayaran ketika menerima gaji.
Masno juga mengisahkan bahwa setelah makan di warung pada hari pertama, keesokan harinya tidak ada satu pun pekerja yang datang kembali untuk makan. Saat dirinya mencoba menanyakan langsung ke lokasi, ia mendapati informasi bahwa beberapa pekerja telah pulang ke Palembang dan tidak lagi bekerja di proyek tersebut.
“Saya sih ikhlas, tapi caranya itu loh. Setidaknya mereka ngomong terus terang. Ini tiba-tiba sudah pulang tanpa kabar,” ujar Masno dengan nada kecewa.
Hingga berita ini ditayangkan, belum diketahui secara pasti penyebab para pekerja meninggalkan proyek dan tidak bertahan bekerja. Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik terkait manajemen pelaksanaan proyek.
Dalam waktu dekat, awak media berencana mendatangi dinas terkait untuk melakukan klarifikasi dan memastikan penyebab terjadinya kendala dalam proyek revitalisasi tersebut.
(Aberi)






