SERGAP.CO.IID
KUPANG, || Sejak kontrak diteken pada 8 dan 10 Oktober 2025, tiga paket pekerjaan Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD) di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 1 Provinsi Nusa Tenggara Timur bergerak cepat dengan pola percepatan di berbagai titik.
Kepala Satker PJN Wilayah 1 Provinsi NTT, Azhary, S.T., M.T., menyampaikan bahwa sejak awal pihaknya langsung menambah alat berat, tenaga kerja, serta mengatur ulang jam operasional untuk memastikan progres tak keluar dari target. Sistem pelaporan harian dan action plan mingguan pun diterapkan untuk memastikan pekerjaan terukur dan terkendali.
Menurutnya, pada tahun 2025 terdapat tiga paket IJD yang dikerjakan, yaitu Pelebaran Menuju Standar Simpang Makamenggit–Kahiri dengan nilai kontrak sekitar Rp19 miliar. Kemudian Pelebaran Menuju Standar Tombu–Pondok dengan nilai Rp23,9 miliar. Paket lainnya yaitu Peningkatan Jalan Silu–Oemofa yang dikerjakan PT Cahaya Berlian Jaya Abadi senilai Rp22,5 miliar.
Azhary memastikan progres ketiga paket tersebut saat ini berada di atas 30 persen. Namun ia mengakui waktu yang tersisa sangat terbatas, yakni hanya sekitar 30 hari menuju batas akhir penyelesaian.
Pada ruas Silu–Oemofa, sebagian jalan sudah memasuki tahap pengaspalan hingga tiga perempat panjang total. Sementara pada ruas Simpang Makamenggit, progres pengaspalan tertunda akibat hujan meski persiapan badan jalan sudah mencapai 100 persen. Kondisi serupa terjadi pada ruas Tombu–Pondok di Sumba Barat yang juga menunggu cuaca cerah untuk pengaspalan.
Ia menargetkan seluruh ruas sudah selesai pengaspalan pada awal Desember atau paling lambat 3 Desember 2025, sesuai rencana percepatan yang tengah dijalankan tim lapangan.
Ruas Silu–Oemofa memiliki panjang sekitar 4–5 kilometer, sementara ruas di Sumba masing-masing mencapai 5 kilometer. Selain pekerjaan badan jalan, pembangunan saluran tanah, pasangan batu, hingga pemasangan cross drain juga dilakukan secara paralel.
Sejumlah titik pun mengalami pelebaran jalan antara 3 hingga 6 meter di sisi kiri dan kanan, menyesuaikan kebutuhan dan standar keselamatan jalan nasional.
Untuk mengejar ketertinggalan akibat cuaca, pihaknya menjalankan strategi percepatan dengan membentuk dua tim kerja ujung-pangkal serta menggeser jam kerja hingga malam hari khusus untuk pengaspalan.
Ia menegaskan bahwa hujan menjadi tantangan utama karena proses pengaspalan tidak boleh dilakukan dalam kondisi basah. Jika hujan turun, pekerjaan dialihkan pada item lain sambil menunggu kondisi memungkinkan.
Azhary menambahkan, jika kondisi lapangan sangat tidak memungkinkan dan pekerjaan belum tuntas hingga Desember, besar kemungkinan ada kebijakan perpanjangan waktu seperti tahun sebelumnya. Namun ia mengingatkan bahwa kontraktor tetap dikenai denda per hari sesuai ketentuan.
“Kalau pun ada kebijakan bulan Januari, pembayarannya tetap ditunda. Syaratnya, progres harus tersisa maksimal 30 persen saja agar pekerjaan layak dilanjutkan,” ujarnya.
Total anggaran sekitar Rp20 miliar dialokasikan untuk tiga ruas dengan panjang yang relatif sama. Azhary berharap seluruh pekerjaan tuntas sehingga akses jalan bisa segera dibuka kembali untuk mendukung kelancaran lalu lintas barang dan pergerakan ekonomi masyarakat.
(Dessy)






