Bobby Lianto di RAPIMNAS KADIN 2025: Suara dari Timur yang Menggetarkan Park Hyatt

SERGAP.CO.ID

JAKARTA, || Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia yang digelar selama tiga hari di Park Hyatt Hotel, Jakarta, menjadi panggung pertemuan strategis antara dunia usaha dan para pengambil kebijakan.

Bacaan Lainnya

Belasan menteri hadir, mulai dari Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Mendagri, Menteri Pertanian, Menteri Pariwisata, Menteri Kesehatan, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, hingga Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga mengepalai Danantara. Masing-masing membentangkan arah kebijakan sektor mereka, menghadirkan gambaran besar arah pembangunan nasional ke depan.

Namun dari seluruh dinamika forum, satu momen menjadi sorotan: ketika Ketua Umum KADIN NTT, kandidat doktor Bobby Lianto, M.M., MBA., menyampaikan intervensinya kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Dengan gaya khasnya yang tenang namun mengena, Bobby memulai dengan apresiasi mendalam atas program revitalisasi perkebunan kakao yang kini digencarkan pemerintah.

Sebagai Ketua Pemuda Tani Indonesia Provinsi NTT yang baru dilantik, Bobby tidak hanya berbicara sebagai pengusaha dan pemimpin KADIN daerah. Ia berbicara sebagai anak petani. Di hadapan menteri dan para pemimpin usaha nasional, ia menceritakan bagaimana kedua orang tuanya membangun perkebunan kakao di Sumba Barat selama lebih dari tiga dekade — keringat, keuletan, dan kesabaran yang baru tahun ini menuai “berkat” melalui program revitalisasi pemerintah.

Kisah itu membuat suasana ruangan seketika lebih hening. Bobby menegaskan bahwa langkah Kementerian Pertanian menghadirkan program revitalisasi kakao, khususnya di NTT, telah membuka ruang baru bagi petani untuk bangkit. Bagi keluarga-keluarga perkebun yang bertahan puluhan tahun di tengah naik turunnya harga dan minimnya intervensi, program itu terasa seperti pintu terbuka menuju masa depan yang lebih pasti.

Tak berhenti pada apresiasi, Bobby menyodorkan satu harapan besar dari Timur: lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada hilirisasi industri di Nusa Tenggara Timur.

“NTT memiliki potensi perkebunan besar, bukan hanya kakao. Sudah saatnya kami tidak hanya menjadi penyedia bahan mentah,” ujarnya.

Pesannya ditangkap oleh banyak peserta sebagai seruan strategis agar NTT tidak lagi berada hanya di hulu rantai nilai.

Respons Menteri Pertanian Amran Sulaiman datang tanpa jeda panjang. Dengan nada tegas dan ramah, ia menyampaikan komitmen langsung kepada Bobby Lianto dan seluruh peserta RAPIMNAS.

“Ketum KADIN NTT segera hubungi Bupati Sumba Barat, ketemu Dirjen Perkebunan — dapat anggaran kakao,” ujarnya.

Ucapan itu sontak mengguncang ruangan. Tepuk tangan menggema dari berbagai sudut ballroom Park Hyatt. Bukan hanya karena anggaran tambahan itu berarti dorongan konkret bagi petani kakao Sumba Barat, tetapi karena penyampaiannya menunjukkan adanya ruang dialog terbuka antara pemerintah dan pelaku usaha daerah.

Di antara gemuruh tepuk tangan itu, sejumlah peserta RAPIMNAS membisikkan komentar: inilah contoh ideal sinergi antara daerah dan pusat. Seorang pemimpin daerah yang datang tidak hanya membawa aspirasi, tetapi juga kisah personal yang merefleksikan perjuangan kolektif ribuan petani.

Hadirnya Bobby dalam forum tersebut sekaligus mempertegas posisi NTT di panggung nasional KADIN. Selama dua tahun terakhir, NTT kerap muncul sebagai daerah yang agresif menjemput investasi, memperkuat UMKM, dan mendorong transformasi pertanian. Kehadiran program revitalisasi kakao yang semakin meluas membuat posisi ini semakin relevan.

Bagi KADIN Indonesia, momen ini menjadi salah satu catatan penting RAPIMNAS 2025: bagaimana suara dari wilayah timur Indonesia mendapatkan ruang strategis dan ditanggapi langsung oleh kementerian terkait. Hal yang sering dianggap sulit diwujudkan dalam forum besar justru hadir secara spontan dan progresif.

Hari itu di Park Hyatt, bukan hanya kebijakan yang dibicarakan. Ada emosi, ada sejarah keluarga, ada harapan kolektif yang melampaui laporan teknis. Bobby Lianto menunjukkan bahwa data dan kebijakan selalu lebih kuat bila disampaikan bersama kisah nyata yang melatarbelakanginya.

Dan sorakan tepuk tangan meriah di ruangan itu adalah tanda bahwa perjuangan petani kakao, khususnya di Sumba Barat, telah menemukan sekutu baru di meja kebijakan pusat. Sebuah harapan yang, bagi banyak orang dari NTT, terasa seperti angin segar dari Jakarta.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *