KAB. SUMEDANG, || Desa Cipeundeuy, Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang, merayakan Milangkala ke-215 tahun dengan serangkaian acara meriah. Bertemakan “Cipeundeuy Bermartabat”, perayaan ini dihadiri oleh pejabat dan berbagai tokoh penting, termasuk Kepala Desa Cipeundeuy, Camat Jatinunggal, Bhabinkamtibmas, Bhabinsa, BPD, perangkat desa, kepala dusun, karang taruna, serta ribuan warga setempat. Acara berlangsung pada Kamis, 23 Oktober 2025, di alun-alun Desa Cipeundeuy.
Berbagai kegiatan menarik digelar untuk memeriahkan perayaan ini, antara lain Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), hajat lembur, senam ibu-ibu, seni kuda renggong, organ tunggal, pengajian malam, hingga pertunjukan wayang golek. Selain itu, acara juga menampilkan hasil panen dari petani lokal, seperti singkong, ubi, labu, jagung, pisang, dan lainnya. Kegiatan ini bukan hanya menarik perhatian pengunjung, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan sektor pertanian yang menjadi andalan ekonomi desa.
Kepala Desa Cipeundeuy, Sobar, dalam sambutannya mengungkapkan kebanggaannya atas usia desa yang telah mencapai lebih dari dua abad. “Desa Cipeundeuy adalah desa senior di Kecamatan Jatinunggal, lahir pada tahun 1811. Usia ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan untuk terus maju dan menjadi teladan bagi desa-desa lain di kecamatan Jatinunggal,” ujarnya.
Sekretaris Desa Cipeundeuy, Karsa, S.Pd., yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme tinggi warga dalam merayakan milangkala desa. “Melalui tema ‘Cipeundeuy Bermartabat’, kami ingin menegaskan komitmen untuk membangun desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkarakter,” tambahnya.
Camat Jatinunggal, Nurhayat, M.Si., memberikan apresiasi kepada masyarakat Cipeundeuy yang tetap kompak dalam menjaga tradisi dan budaya lokal. Menurutnya, momentum perayaan ini menjadi sarana penting untuk memperkuat sinergitas antara pemerintah dan warga dalam membangun desa yang lebih maju.
Perayaan Milangkala ke-215 Desa Cipeundeuy ini tidak hanya menjadi ajang untuk merayakan sejarah panjang desa, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya dan semangat gotong royong. Kegiatan ini semakin mempererat tali silaturahmi antar warga masyarakat.
(Yas)






