David Boimau Serap Aspirasi Pembangunan dari Warga Kotolin: Dari Jalan Rusak, Air Bersih, Hingga Wisata Paralayang

SERGAP.CO.ID

KOTOLIN, TTS, || Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, David Boimau, menyerap beragam aspirasi warga saat menggelar reses masa sidang I Tahun 2025–2026 di Desa Kotolin, Kecamatan Kotolin, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pertemuan yang berlangsung di balai desa itu dipenuhi suasana hangat dan antusias, menandai kedekatan sang legislator dengan masyarakat yang diwakilinya.

Bacaan Lainnya

Kegiatan reses tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Kotolin, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, kelompok tani, serta pelaku usaha mikro. Warga memanfaatkan kesempatan langka ini untuk menyampaikan beragam kebutuhan dasar dan gagasan pembangunan langsung kepada wakil rakyat mereka di provinsi.

Dalam forum itu, aspirasi mengenai infrastruktur jalan menjadi sorotan utama. Warga meminta perhatian terhadap ruas jalan provinsi Niki-Niki – Oinlasi – Boking yang kondisinya kini rusak parah. Jalan tersebut merupakan jalur vital penghubung antar kecamatan di wilayah Amanuban Selatan hingga ke pesisir.

“Kondisi jalan ini sangat memprihatinkan. Saat musim hujan, kendaraan sulit melintas dan petani kesulitan menjual hasil panennya,” kata Kepala Desa Kotolin di hadapan David Boimau.

Selain jalan provinsi, masyarakat juga berharap adanya perbaikan pada ruas jalan kabupaten Oinlasi – Kotolin, yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi lokal. Menanggapi hal itu, David menegaskan bahwa dirinya akan memperjuangkan perbaikan infrastruktur jalan tersebut agar masuk dalam prioritas pembangunan tahun anggaran mendatang.

“Kalau jalan sudah bagus, ekonomi desa akan tumbuh, anak-anak lebih mudah ke sekolah, dan masyarakat cepat mendapatkan layanan kesehatan,” ujar David Boimau disambut tepuk tangan warga.

Selain persoalan jalan, warga juga mengeluhkan krisis air bersih yang masih menjadi tantangan utama di sejumlah dusun. Mereka berharap pemerintah membantu pembangunan bak penampung, jaringan pipa, dan sumur bor agar kebutuhan air dapat terpenuhi, terutama di musim kemarau.

“Air adalah kebutuhan dasar kami, tapi setiap kemarau warga harus berjalan jauh untuk mencari air,” ungkap salah satu tokoh perempuan setempat.

Menanggapi hal itu, David berjanji akan membawa aspirasi tersebut ke tingkat provinsi melalui program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), sekaligus mendorong koordinasi lintas instansi agar penanganannya lebih cepat.

Selain urusan dasar, aspirasi lain datang dari kelompok perajin tenun ikat tradisional yang meminta bantuan alat tenun, pelatihan, dan perluasan akses pasar. David mengakui potensi besar tenun ikat khas Amanuban sebagai warisan budaya sekaligus sumber ekonomi keluarga.

“Tenun ikat bukan hanya kain, tetapi simbol identitas daerah. Kalau dikelola dengan baik, bisa jadi sumber ekonomi yang menjanjikan,” ujar David sambil menegaskan komitmennya untuk menghubungkan para perajin dengan dinas terkait di provinsi.

Warga juga menyampaikan aspirasi di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Mereka berharap adanya bantuan benih unggul, pupuk, serta bibit sapi dan babi untuk meningkatkan hasil produksi. Untuk wilayah pesisir, masyarakat menginginkan dukungan pelatihan budidaya ikan air tawar dan alat tangkap bagi nelayan kecil.

Di bidang pendidikan dan sosial keagamaan, warga mengusulkan pembangunan ruang kelas baru bagi sekolah yang sudah padat, serta bantuan pagar dan fasilitas ibadah. “Anak-anak kami butuh ruang belajar yang layak, dan rumah ibadah perlu dijaga dengan baik,” ujar salah seorang tokoh gereja.

Dalam dialog yang semakin dinamis, muncul pula gagasan pemekaran Daerah Otonom Baru (DOB) Amanuban agar pelayanan publik lebih cepat dan merata. David menilai usulan itu perlu kajian komprehensif, namun ia mengapresiasi semangat masyarakat yang ingin memajukan daerahnya sendiri.

Selain itu, warga juga meminta adanya pelatihan keterampilan bagi pemuda dan perempuan seperti menjahit, pengolahan hasil pertanian, serta digital marketing. “Generasi muda harus punya keterampilan sesuai zaman, supaya tidak tertinggal,” kata David.

Menutup pertemuan, David menyoroti potensi besar wisata alam dan paralayang di Kotolin. Ia menyebut wilayah ini memiliki panorama indah dan udara sejuk, cocok dikembangkan sebagai destinasi wisata olahraga.

“Kalau dikelola dengan baik, paralayang bisa jadi daya tarik wisata seperti dulu di Hoibeti,” ujarnya.

Kegiatan reses diakhiri dengan dialog terbuka dan doa bersama. Warga berharap agar semua aspirasi yang telah disampaikan benar-benar diperjuangkan di tingkat provinsi. David Boimau menegaskan bahwa dirinya tidak datang membawa janji kosong, tetapi komitmen nyata untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Reses bukan sekadar seremoni, tapi ruang untuk mendengar dan mencari solusi bersama. Saya akan pastikan setiap aspirasi ini dibawa ke parlemen dan diperjuangkan,” pungkasnya.

Suasana ditutup dengan foto bersama, diiringi senyum dan tepuk tangan warga yang merasa puas karena aspirasinya telah didengar langsung oleh wakil rakyat mereka.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *