SABU RAIJUA, || Di balik debur ombak Pulau Raijua dan semilir angin panas dari dataran kering Sabu Besar, ada cerita tentang sebuah perjuangan sunyi yang telah berlangsung selama satu dekade.
Adalah Yayasan Generasi Peduli Sarai (GPS), sebuah gerakan dari hati, yang tak hanya berbicara soal bantuan materi, tetapi juga tentang harapan, pendidikan, dan cinta terhadap budaya sendiri.
Senin, 30 Juni 2025 menjadi momen yang penuh haru ketika Yayasan GPS kembali menyerahkan bantuan seragam sekolah kepada anak-anak yatim piatu di Kabupaten Sabu Raijua. Di antara mereka adalah Tade, seorang bocah polos yang baru akan menapaki bangku Sekolah Dasar. Ia tersenyum malu-malu sambil memeluk erat tas barunya.
“Saya berterima kasih karena pas mau masuk SD, saya belum punya seragam. Tapi sekarang saya sudah punya semuanya baju, sepatu, buku, alat tulis,” katanya pelan, dengan mata yang berbinar.
Bantuan itu bukan yang pertama. Sejak berdiri tahun 2015, Yayasan GPS telah membantu lebih dari 800 anak yatim piatu di seluruh pelosok Sabu Raijua. Bantuan berupa buku, alat tulis, dan kini seragam lengkap menjadi bagian dari upaya nyata yayasan dalam menjawab kesenjangan akses pendidikan di wilayah kepulauan itu.
“Ini bukan hanya soal memberikan seragam atau buku,” ujar Ketua sekaligus pendiri yayasan, Jefrison Hariyanto Fernando atau akrab disapa Nando.
“Ini adalah bentuk nyata komitmen kami dalam mendukung kemajuan pendidikan di daerah ini. Jika diuangkan, bantuan ini senilai Rp500 ribu per anak, tapi maknanya jauh lebih besar dari angka itu.”tambahnya.
Bersama Yulius Boni Geti, sesama pendiri yayasan, mereka juga membangun ruang-ruang kecil harapan yang disebut Rumah Inspirasi. Di taman baca ini, anak-anak tak hanya diajarkan membaca dan menulis, tapi juga diajak mengenal budaya sendiri lewat sanggar seni.
“Kami buka rumah inspirasi di Pulau Raijua dan Sabu Besar. Di sana anak-anak belajar bahasa Inggris, menulis, dan juga dilatih melestarikan budaya Sabu Raijua,” kata Yulius, yang juga mantan aktivis GMNI.
Dalam sebuah acara sederhana di Gereja GMIT Bukit Horeb Ja, Desa Daieko, para pengurus yayasan menyerahkan langsung bantuan kepada anak-anak. Tak ada panggung megah, tak ada sorotan kamera besar. Hanya tangan-tangan hangat yang memberikan, dan tangan-tangan mungil yang menerima, dengan mata penuh harap.
Sebagai pegiat budaya, Yulius juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pengurus dan donatur yang telah setia mendukung GPS selama 10 tahun terakhir.
“Atas nama pribadi dan yayasan, saya berterima kasih kepada semua teman dan para donatur. Tanpa mereka, semua ini tidak mungkin terjadi,” ungkapnya haru.
Cerita dari Sabu Raijua ini bukan sekadar kisah bantuan. Ini adalah kisah tentang semangat, tentang komitmen jangka panjang, dan tentang kepercayaan bahwa masa depan anak-anak di ujung timur Indonesia pantas untuk diperjuangkan.
Dalam kesunyian pulau dan keterbatasan akses, Yayasan GPS terus menyalakan api kecil harapan. Karena mereka percaya, perubahan besar selalu bermula dari tindakan sederhana, yang dilakukan dengan cinta dan ketulusan.
(Dessy)





