Kartini di Gedung Rakyat: Suara Perempuan dari Kupang untuk Indonesia

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Bangsa ini mengenang sosok Raden Ajeng Kartini—pionir kesetaraan gender dan emansipasi perempuan.

Bacaan Lainnya

Di tengah gemuruh politik modern, semangat Kartini menemukan gaungnya dalam sosok Esi Meliana Bire, anggota DPRD Kota Kupang dari Fraksi Partai Nasdem.

Baginya, Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan lentera yang menerangi jalan perjuangan perempuan masa kini, terutama di ranah pengambilan kebijakan publik.

Esi Meliana Bire duduk tenang di ruang kerjanya di Gedung DPRD Kota Kupang, dikelilingi berkas-berkas pengaduan rakyat.

Namun hari itu, pikirannya melayang pada seorang perempuan dari masa silam—RA Kartini. Ia menghela napas panjang lalu berkata, “Semangat Kartini itu abadi. Dia hidup dalam setiap langkah perempuan hari ini.”

Bagi Esi, memperingati Hari Kartini bukanlah seremoni biasa. Ini adalah momen kontemplatif, terutama bagi perempuan yang memegang peran penting dalam ruang-ruang publik.

“Kartini membuka pintu, kita hari ini harus memastikan pintu itu tetap terbuka dan dilalui lebih banyak perempuan,” tegasnya.

Perempuan, menurut Esi, tidak boleh lagi hanya menjadi pelengkap dalam sistem. Mereka harus hadir sebagai pengambil keputusan, sebagai penentu arah kebijakan.

“Kita tidak bisa hanya menuntut kesetaraan, kita harus berdaya dan mengambil peran aktif,” lanjutnya.

Refleksi Hari Kartini di mata Esi bukan semata soal romantisme sejarah. Ini tentang keberanian untuk menantang sistem yang tidak adil, dan mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai.

“Lihat saja representasi perempuan di parlemen, masih minim. Ini PR besar kita bersama,” katanya.

Di DPRD Kota Kupang, Esi dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu perempuan dan anak. Ia mendorong kebijakan anggaran responsif gender serta perlindungan hukum bagi korban kekerasan berbasis gender. Ia meyakini bahwa kehadiran perempuan di parlemen adalah jembatan menuju kebijakan yang lebih inklusif.

Menurut Esi, semangat Kartini hari ini harus diterjemahkan dalam bentuk konkret—akses pendidikan setara, layanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas, serta peluang ekonomi yang adil bagi perempuan.

“Kartini tidak ingin kita hanya mengaguminya, dia ingin kita melanjutkan perjuangannya,” katanya.

Ia pun mengajak kaum perempuan di Nusa Tenggara Timur, terutama generasi muda, untuk tidak ragu menempuh jalan politik.

“Kalau bukan kita yang menentukan masa depan perempuan, siapa lagi?” ujar Esi lantang.

Namun ia juga mengakui, perjalanan perempuan dalam politik tak mudah. Stigma, diskriminasi, bahkan kekerasan verbal masih kerap ditemui.

“Tapi itu tidak boleh menghentikan langkah kita. Semangat Kartini adalah keberanian untuk melawan semua itu,” tegasnya.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh perempuan NTT yang kini mulai menempati posisi strategis, baik di birokrasi maupun legislatif.

“Itu bukti bahwa perubahan mungkin. Kita hanya perlu memperbanyak cerita sukses perempuan untuk menginspirasi yang lain,” katanya.

Dalam memperingati Hari Kartini tahun ini, Esi tidak hanya menggelar diskusi tentang emansipasi di kalangan mahasiswa, tetapi juga turun langsung ke komunitas perempuan nelayan di pesisir Kota Kupang. Di sana, ia berbagi pengalaman dan memotivasi mereka untuk berani bermimpi lebih besar.

“Kartini bukan milik mereka yang duduk di kantor atau sekolah tinggi. Dia milik setiap perempuan yang ingin mengubah nasibnya,” ungkap Esi dengan mata berbinar. Menurutnya, gerakan perempuan harus dimulai dari bawah, dari desa-desa dan komunitas akar rumput.

Menutup percakapan, Esi Meliana Bire menitip pesan sederhana namun kuat:

“Teruslah berjuang, jangan takut bersuara, dan banggalah atas identitas kalian. Kartini telah memulai, tugas kita menyelesaikan.” Di Kupang, gema Kartini pun bergema dari gedung rakyat, menjalar hingga ke lorong-lorong kehidupan perempuan biasa.

(Desi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *