KUPANG, || Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, memberikan angin segar bagi dunia pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur. Saat berkunjung ke Universitas Nusa Cendana (Undana), Kamis (18/4).
Ia tak sekadar memberi sambutan seremonial, melainkan menyulut semangat baru bagi para dosen untuk tampil sebagai peneliti kelas dunia.
Dalam pidatonya, Prof. Brian menggarisbawahi pentingnya membangun ekosistem ilmiah di lingkungan kampus. Tak cukup hanya mengajar, dosen Undana diharapkan juga produktif dalam penelitian yang mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat dan bangsa.
“Saya membayangkan suatu hari dinding gedung rektorat Undana dipenuhi foto-foto dosen yang masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Itu akan sangat membanggakan,” ujarnya di hadapan sivitas akademika.
Lebih dari sekadar prestise, menurut Prof. Brian, budaya riset juga bisa menjadi sumber pemasukan yang menjanjikan. Ia mencontohkan seorang dosen peneliti vaksin yang kini bergelimang harta dengan kekayaan mencapai Rp12 triliun.
“Saya sendiri menerima Rp70 juta per bulan dari kerja sama riset dengan industri farmasi. Ini adalah dampak nyata dari hasil penelitian yang terpakai,” tambahnya.
Ia pun menegaskan bahwa universitas dengan banyak peneliti unggulan akan lebih diperhitungkan secara nasional maupun global.
Ucapan sang menteri bukan tanpa dasar. Salah satu dosen Undana, Prof. Dr. Yantus A.B. Neolaka, berhasil mencatatkan namanya dalam daftar ilmuwan paling berpengaruh dunia versi Stanford University dan Elsevier tahun 2024.
Prof. Yantus, yang mengajar Ilmu Kimia di FKIP Undana, berada di peringkat ke-51 dari lebih dari 220 ribu ilmuwan yang dinilai dari seluruh dunia. Ia juga satu dari 150 nama asal Indonesia yang berhasil masuk ke daftar tersebut.
“Saya bersyukur atas pencapaian ini. Semoga menjadi penyemangat bagi teman-teman dosen lain untuk aktif meneliti dan berinovasi,” kata Prof. Yantus yang dikenal rendah hati namun konsisten menelurkan riset berkualitas.
Capaian ini sejalan dengan harapan Prof. Brian agar Undana tak hanya dikenal di NTT, tetapi juga berkontribusi besar bagi dunia akademik nasional dan internasional. Ia berharap Undana menjelma sebagai lokomotif riset di kawasan timur Indonesia.
Tak ketinggalan, Prof. Brian mendorong agar rektorat memberikan dukungan lebih bagi para dosen yang ingin meneliti, termasuk dalam hal dana, fasilitas laboratorium, dan akses ke jurnal ilmiah.
Peringkat World’s Top 2 Percent Scientists sendiri merupakan penghargaan prestisius yang diberikan berdasarkan analisis dampak sitasi ilmiah dari database Scopus. Stanford University dan Elsevier merilis daftar ini setiap tahun, sebagai barometer kontribusi nyata ilmuwan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Bagi Undana, pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa potensi besar kampus-kampus di daerah tak boleh lagi dipandang sebelah mata. Dengan dorongan kebijakan yang tepat, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah, para dosen daerah pun bisa bersinar di panggung dunia.
Kunjungan Menteri ini pun ditutup dengan harapan sederhana: agar setiap pojok kampus menjadi ruang tumbuh ide-ide besar yang mampu mengubah wajah pendidikan Indonesia.
(Desi)






