Jejak Lubang Misterius di Desa Lenggahjaya, Ternyata Mahasiswa KKN UNSIKA yang Melakukannya!!!

Jejak Lubang Misterius di Desa Lenggahjaya, Ternyata Mahasiswa KKN UNSIKA yang Melakukannya!!!

SERGAP.CO.ID

KAB. BEKASI || Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) turut berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dengan mengadakan program BIOPI: Solusi Konservasi Tanah dengan Berbagai Manfaat di Desa Lenggahjaya RT 06, Kecmatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan masyarakat mengenai manfaat lubang resapan biopori untuk meningkatkan daya serap air tanah, mengurangi risiko banjir, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini meliputi sosialisasi dan praktik pembuatan biopori yang dipaparkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Singaperbangsa Karawang yaitu Nanda Abdul Rohman dari Jurusan Agroteknologi dan Audi Malonda dari Jurusan Agribisnis. Sosialiasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman, pengetahuan masyarakat mengenai manfaat lubang resapan biopori untuk meningkatkan daya serap air tanah, mengurangi risiko banjir, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.

Jejak Lubang Misterius di Desa Lenggahjaya

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari warga yang antusias mengikuti sosialisasi dan praktik pembuatan biopori. Mahasiswa KKN Unsika bersama masyarakat setempat secara gotong royong membuat lubang biopori di sejumlah titik strategis, seperti halaman rumah, area sekitar jalan, dan pekarangan umum.

Koordinator Desa Lenggahjaya, Rafy Shahrukh Muhammad, menjelaskan bahwa program ini merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. “Kami ingin memberikan solusi sederhana namun berdampak besar bagi lingkungan. Biopori tidak hanya membantu mengurangi genangan air saat hujan, tetapi juga menjadi tempat pengolahan sampah organik yang bermanfaat,” ujarnya.

Selain pembuatan biopori, mahasiswa KKN juga mengadakan sosialisasi mengenai manfaat biopori dan cara perawatannya agar warga dapat menerapkan metode ini secara mandiri.

Dalam sesi sosialisasi, pemateri, Nanda Abdul Rohman dan Audi Malonda, berinteraksi secara aktif dengan peserta. Mereka menjawab berbagai pertanyaan dari warga mengenai teknik pembuatan biopori, manfaatnya dalam jangka panjang, serta cara pemeliharaan agar tetap berfungsi dengan baik. Salah satu peserta, Pak Darma, menanyakan apakah biopori dapat digunakan di lahan dengan tanah liat. Pemateri menjelaskan bahwa meskipun tanah liat memiliki daya serap air yang lebih rendah, biopori tetap efektif dengan beberapa modifikasi seperti memperdalam lubang atau menggunakan bahan tambahan untuk mempercepat infiltrasi air.

Jejak Lubang Misterius di Desa Lenggahjaya

Ketua RT 06, Bapak Jalaludin, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif mahasiswa Unsika. “Kami sangat terbantu dengan adanya program ini. Selain meningkatkan kesadaran warga terhadap lingkungan, biopori juga menjadi solusi nyata bagi permasalahan genangan air di sekitar kami,” katanya.

Salah satu warga, Ecin, mengungkapkan pengalamannya setelah mengikuti kegiatan ini. “Saya baru tahu kalau biopori bisa membantu menyerap air lebih cepat dan juga bisa digunakan untuk mengolah sampah organik. Ini sangat bermanfaat bagi kami,” ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Tiar Lina Situngkir, S.E., M.M., juga turut memberikan dukungan terhadap program ini. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan melalui metode sederhana tetapi efektif seperti biopori.

Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menginspirasi masyarakat Desa Lenggahjaya serta daerah lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan dengan menerapkan teknologi sederhana seperti biopori. Dengan kerja sama antara mahasiswa dan warga, lingkungan yang lebih bersih dan sehat dapat terwujud.

(Mamun)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *