Panggung Perempuan : Perempuan Adat Helong Kolhua Menjaga Kearifan Lokal dan Alam Kolhua

SERGAP.CO.ID

KOLHUA, || Perempuan adat memainkan peran vital dalam merawat alam dan melestarikan kearifan lokal meski sering terabaikan dalam budaya patriarki. Di Kolhua, ketahanan perempuan suku Helong dalam menjaga alam, hutan, tanah, dan air menjadi bukti konkrit betapa pentingnya peran mereka dalam kehidupan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Dalam Festival Budaya Helong yang diselenggarakan oleh Komunitas Penjaga Budaya Helong dan Taman Baca Uibaha, Solidaritas Perempuan Flobamoratas (SPF) dan Perempuan Akar Rumput di Kolhua turut berpartisipasi melalui “Panggung Perempuan.” Panggung ini memberikan ruang bagi tokoh perempuan suku Helong Kolhua untuk berbagi praktik-praktik baik mereka.

Atalya Taklale, seorang ibu tunggal dan penenun, berbagi pengalamannya. “Rasa cinta terhadap budaya membuat saya menenun dan membagikan ilmu ini kepada generasi muda suku Helong. Tradisi ini tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga membantu saya secara ekonomi,” ungkapnya. Atalya menggunakan pewarna alami dari hutan Kolhua untuk menenun, menunjukkan bagaimana alam menjadi sumber penghidupan yang tak terpisahkan bagi perempuan penenun di Kolhua.

Lily Bistolen, penggagas Taman Baca Uibaha, menceritakan inisiatifnya untuk menyediakan ruang belajar bagi anak-anak suku Helong. Taman baca ini juga menjadi tempat anak-anak belajar bahasa Helong, tuturan adat, dan tarian tradisional. “Kami ingin menciptakan ruang di mana anak-anak bisa belajar dan merasa bangga akan warisan budaya mereka,” kata Lily.

Melyawati Bistolen, ketua panitia Festival Budaya Helong, menjelaskan tujuan festival ini adalah untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Helong serta menjadi ruang transfer pengetahuan antar generasi. “Ini dilakukan sebagai rasa cinta dan rasa bangga kami sebagai orang Helong. Kami ingin ‘menolak punah’ dan memastikan generasi mendatang mengenal budaya Helong,” tegas Melyawati.

Pdt. Emmy Sahertien dan Linda Tagie dari Solidaritas Perempuan Flobamoratas memberikan tanggapan atas cerita-cerita inspiratif tersebut. “Perempuan ibarat profesor yang menulis dan mengajarkan pengetahuan dari alam,” ujar Emmy. Linda menambahkan, “Ketiga tokoh perempuan ini adalah contoh konkrit dari resiliensi dan ketahanan perempuan di tengah tantangan zaman. Tubuh perempuan adalah medan pertempuran melawan konstruksi sosial-budaya, tuntutan ekonomi, politik patriarki, dan produk-produk kolonialisme.”

Festival Budaya Helong tidak hanya menampilkan Panggung Perempuan tetapi juga stan pameran yang memamerkan produk-produk pengetahuan dan kearifan lokal perempuan Helong, seperti tenunan, obat-obatan tradisional, pangan lokal, dan anyaman. Stan-stan ini menjadi saksi bagaimana perempuan adat suku Helong mengolah dan mempertahankan warisan budaya mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui upaya ini, eksistensi, resiliensi, dan kontribusi perempuan adat dalam menjaga kearifan lokal dan alam tetap hidup dan terjaga. Mereka tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga mempersiapkan generasi mendatang untuk menghargai dan meneruskan tradisi leluhur yang kaya dan bermakna. Festival Budaya Helong telah menjadi platform penting untuk menunjukkan bahwa perempuan adat, meski sering diabaikan, memiliki peran yang sangat fundamental dalam membangun kehidupan yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *