Memilih Berdasarkan Suara Hati

Memilih Berdasarkan Suara Hati

Oleh Melkianus Asterius Bili, mahasiswa Universitas Katolik Weetebula, program studi Pendidikan Keagamaan Katolik.

SERGAP.CO.ID

Bacaan Lainnya

SBD,||Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu dihadapakan dengan kata “memilih” dan ada berbagai macam bentuk pilihan yang akan kita pilih untuk berbagai kebutuhan. Seseorang akan memilih berdasarkan apa penilaiannya terhadap objek yang akan dipilihnya. Pertanyaannya adalah apakah yang kita pilih berdasarkan keputusan sendiri/suara hati sendiri atau memilih harus selalu berdasarkan dengan keputusan orang lain/dorongan orang lain?
Pertanyaan tersebut, penulis ingin sekali membahasnya pada kesempatan ini.

Pertanyaan diatas, jika dikaitkan dengan situasi sekarang sangat tepat sekali, dimana pada saat ini masyarakat sedang dihadapkan dengan pemilihan seorang pemimpin. Dengan kata lain, masyarakat berhadapan atau berada dalam situasi politik yang menegangkan. Masyarakat akan memilih pemimpin yang akan memimpin mereka ke kehidupan yang Sejahtera. Dalam situasi politik ini, tentunya setiap orang yang menjadi calon pemimpin atau kandidat ingin menjadi pemimpin disuatu wilayah. Untuk mewujudkan hal ini, mereka harus melakukan berbagai macam caranya sendiri untuk mendaptkannya.

Apapun bentuk cara yang mereka lakukan, itu adalah urusan meraka. Namun, sebagai manusia, Tuhan sudah melengkapi kita dengan suara hati yang menjadi dasar utama dalam melakukan segalah sesuatu. Sebagaimana yang dapat dipahami bahwa suara hati merupakan suatu keputusan akal budi, dimana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang dilaksanakan, atau sudah terlaksanakan, baik atau buruk secara moral. Pengertiam tersebut, menunjukkan bahwa suara hati berfungsi sebagai pengangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.

Dari pengertian dan fungsi suara hati diatas, sangat dirasakan oleh kita dalam bertindak di kehidupan sehari-hari. Suara hati tidak pernah terpisah dalam setiap lika-liku kehidupan kita, terlebih khusus ketika kita sedang menghadapi suatu persoalan, karena suara hati merupakan dasar utama yang memberikan keputusan, penilaian dalam melakukan suatau tindakan, karena suara hati selalu mempertimbangkan dan menyeruhkan segalah yang baik. Pada saat ini, kita sedang menghadapi pemilihan, dimana kita akan memilih seorang pemimpin, baik pemimpin daerah tertentu maupun pemimpin pusat.

Oleh karena itu, suara hati juga tidak akan terlepas dalam situasi ini. Suara hati yang akan bekerja di dalam diri kita masing-masing dalam memutuskan untuk menentukan dan memilih pemimpin atau siapa yang akan kita pilih. Ia mampu menilai mana seorang pemimpin yang benar-benar berkualitas yang akan membawah kita pada hidup yang Sejahtera sebagaimana yang menjadi harapan bersama.

Bolehkah kita tidak mendengarkan suara hati atau menyimpang darinya? Suara hati dapat juga dikatakan sebagai suara Tuhan yang berbisik di dalam diri kita untuk melakukan serta menentukan yang terbaik, sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa Tuhan adalah sumber segalah yang baik.

Menyimpang atau tidak mendengarkan suara hati, artinya kita tidak mendengarkan apa yang Tuhan bisikkan kepada kita. Dalam hal ini, Tuhan sendiri yang memberikan keputusan melalui suara hati untuk memilih pemimpin yang berkualitas dan yang benar-benar membawah masyarakat pada kehidupan yang damai, tentram, aman dan sejahtera, karena Tuhan sudah mengetahui isi hati seseorang yang akan menjadi pemimpin dan yang benar-benar tulus dengan masyarakat.

Maka dari itu, kita selalu turuti apa yang menjadi kata-kata hati kita dan jangan pernah menyimpang darinya dan juga jangan terpengaruh dengan dorongan orang lain.

Dalam dunia politik diberbagai negara, terlebih khusus di Indonesia yang dikenal sebagai negara demokrasi, terdapat banyak cara yang dilakukan oleh oknum-oknum untuk mempengaruhi masyarakat demi memperoleh kekuasaan. Cara apapun yang mereka lakukan, jika itu bertentang dengan suara hati kita sebagai masyarakat yang menjadi peran utama dalam hal ini (demokrasi), maka abaikan itu dan dengarkan suara hati.

Salah satu defenisi paling terkenal tentang demokrasi datang dari Abraham Lincoln yang mendeskripsikan bahwa pemerintahan itu adalah rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam pandangan Lincoln, demokrasi melibatkan partipasi aktif rakyat dalam pemerintahan dan megutamakan kepentingan rakyat secara mayoritas.

Dari sini kita ketahui bersama bahwa dalam sistem pemerintahan yang paling diutamakan adalah kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Hal yang perlu kita lakukan sebagai rakyat adalah kita harus mampu menilai, menentukan dan memilih seorang pemimpin yang benar-benar mau bertanggung jawab serta tulus dan iklas untuk masyarakat tanpa harus mementingkan dirinya sendiri. Perhatikan bagaimana cara ia membangun hidup dilihat dari sikap dan perbuatannya.

Pikirkan, supaya efek baik yang dilakukan oleh seorang yang akan menjadi pemimpin dalam sistem pemerintah, dapat dirasakan dalam jangka waktu yang Panjang dan jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang hanya bersifat sementara dan juga dirasakan dalam jangka waktu yang singkat. Dasarnya adalah suara hati, sebagaimana yang sudah kita pahami dari awal.

Semuanya itu bertujuan untuk kesejahteraan kita bersama, supaya kita tidak hanya sebagai jembatan untuk kepentingan dan kesejahteraan oknum-oknum terntentu. Seorang pemimpin bekerja untuk rakyat***

(MSS**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *