Melalui Langkah Bersama, WALHI NTT dan Pemerintah Daerah Kupang Terbitkan Kesepakatan Wujudkan Kembali Warisan EkologisKejayaan Cendana di NTT

Caption : Foto bersama dokumen WALHI NTT

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Desa Baumata Utara, Kupang langkah berani dalam memperjuangkan kelestarian ekosistem Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin terasa nyata dengan acara peluncuran pemulihan ekosistem cendana yang diprakarsai oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Eksekutif Daerah NTT (WALHI NTT).

Bacaan Lainnya

Di tengah gemuruh suara daun berdesir dan semilir angin, pada Jumat, 26 Januari 2023, peristiwa bersejarah tersebut mencatat momentum baru dalam membangkitkan semangat pelestarian alam.

Acara yang dipenuhi aroma harum cendana tersebut bukan hanya tentang penanaman 52 anakan cendana, melainkan juga tentang penandatanganan kesepakatan bersama antara WALHI NTT, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Kesepakatan itu menjadi tonggak penting dalam mengembalikan kejayaan ekonomi kerakyatan serta mengukuhkan komitmen bersama untuk melestarikan warisan ekologis yang telah lama terabaikan.

Cendana, atau yang dikenal dengan nama lokal “Hau Meni,” bukan semata kayu wangi, namun juga bagian tak terpisahkan dari identitas dan sejarah NTT. Dulu, cendana menjadi tulang punggung pembangunan di NTT, tetapi eksploitasi berlebihan menyebabkan degradasi hutan cendana. WALHI NTT hadir sebagai garda terdepan untuk menghidupkan kembali semangat menjaga cendana, dengan memulai dari pemulihan ekonomi masyarakat melalui pelestarian cendana.

Dalam acara yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah, dan para aktivis lingkungan, WALHI NTT menegaskan komitmennya dalam memperluas upaya pemulihan ekosistem cendana di Pulau Timor. Program yang telah sukses dilaksanakan di Sumba Timur kini diperluas ke Tuamese, menjadi tonggak penting dalam perjalanan membangkitkan kembali kehidupan ekosistem yang terkikis.

Melalui penanaman anakan cendana dan penandatanganan kesepakatan bersama, WALHI NTT bersama-sama dengan pemerintah daerah menegaskan pesan penting: menjaga ekosistem adalah tanggung jawab bersama, dan kembali kepada akar-akar kearifan lokal adalah kunci dalam menjaga keberlangsungan hidup kita dan warisan ekologis yang kita warisi dari nenek moyang. Semangat pemulihan ekosistem cendana berbasis rakyat di NTT semakin berkobar, mengukuhkan harapan akan masa depan yang lestari bagi generasi mendatang.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *