SERGAP.CO.ID
KUPANG, || Dalam menghadapi tahun politik ini, muncul kekhawatiran terkait perolehan kursi legilsatif di Daerah Pemilihan (DAPIL ) Lembata 2 yakni kecamatan Lebatukan, Ile Ape, dan Ile Ape Timur.
Adalah ketua DPC PDI Perjuangan kabupaten Lembata, G. Fransiskus Langobelen, seorang tokoh politik yang terkenal cermat dalam menganalisis data, termasuk analisis politiknya yang memperlihatkan bahwa hasil pemilu legislatif tahun 2024 mengindikasikan adanya potensi PDI Perjuangan kehilangan kursi di dapil tersebut, dengan perbandingan pemilih PDI Perjuangan terbilang terbagi menjadi dua kelompok.
“Saat melihat data dari pemilu sebelumnya, terdapat dua figur yang masing-masing mendapat perolehan suara yang signifikan. Namun, pemilih yang memilih salah satu dari mereka tidak mencapai 90% dari total suara, dengan lebih dari 20% perbedaan antara suara laki-laki dan perempuan. Kondisi ini, jika tidak diatasi dengan optimalisasi pergerakan dan konsolidasi, berpotensi membuat kursi di dapil 2 menjadi taruhannya,” ungkap G. Fransiskus.
Menurut data dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pergantian anggota DPRD antara pemilu sebelumnya dengan saat ini hanya terdapat 400 lebih perubahan. Frans menggarisbawahi perbedaan antara figur yang menang dengan figur yang digantikan mencapai lebih dari 680 suara. Ia kemudian memberi gambaran tentang pemilih di Ile Ape Timur dan Lebatukan, yang jumlahnya mencapai angka 17.000-an, dibagi menjadi lebih dari 2.000. Jika perolehan suara per figur tidak mencapai 1.000, maka kursi di dapil ini berpotensi hilang.
“Menghadapi potensi kehilangan kursi ini, saya sudah memaparkan analisis politik di Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kami. Namun, kami akan berupaya dengan kerja gotong royong untuk meningkatkan elektabilitas figur yang mendapatkan dukungan rakyat, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kami semakin bertambah,” tegasnya.
G. Fransiskus menegaskan bahwa untuk dapil 1, 3, dan 4, perolehan suara masih berada pada standar yang baik, dengan figur yang selalu mendapatkan kursi di parlemen. Ia optimistis dalam meraih target keberhasilan di keempat dapil tersebut, namun menegaskan pentingnya kerja sama dan kebersamaan dalam upaya memegang tongkat kepemimpinan.
“Jika kita ingin tetap memegang tongkat kepemimpinan, kita harus bekerja secara gotong royong dan tidak egois. Kita harus berjuang bersama-sama dan tidak hanya mengandalkan performa individu semata,” tambahnya.
Ditanya mengenai kemungkinan mencalonkan diri sebagai bupati di Lembata, G. Fransiskus menyatakan kesiapannya untuk mengikuti mekanisme partai yang berlaku.
“Sebagai seorang politisi, saya tunduk pada mekanisme yang berlaku dan mengikuti aturan partai kami. Saat ini, fokus kami adalah meraih sukses dalam pemilu legislatif terlebih dahulu. Kemenangan dalam Pileg adalah gambaran keberhasilan dalam meraih simpati publik dan meletakkan kursi legislatif. Setiap kader kami memiliki peluang yang sama dalam pencalonan, namun kinerja dan respon publik menjadi pintu masuk bagi siapa yang berpeluang maju,” pungkasnya.
Ia menegaskan kesiapannya jika nantinya diberi amanat oleh partainya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah.
(Desi)






