SERGAP.CP.ID
NAGEKEO, || Rabu, 12 Juli 2023, malam, di tengah kunjungannya ke Kabupaten Nagekeo untuk meresmikan rumah gotong royong, Bakal Calon Gubernur NTT, Fransiskus Xaverius Lara Aba, tak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi rumah adat suku Nataia di Desa Olaia, Kecamatan Aesesa.
Saat memasuki pintu gerbang rumah adat, Frans Aba disambut dengan sapaan adat khas Nagekeo oleh Kepala Suku Nataia, Patrisius Seo. Dalam sapaannya, Patrisius memohon restu dari leluhur agar memberikan kesehatan dan kelancaran dalam segala perjuangan yang dihadapi oleh Frans Aba.
“Kami memohon restu dari leluhur agar mempermudah perjuangan dan memberikan kesehatan bagi Bapak Frans Aba,” ucap Patrisius Seo. Menurut tradisi turun temurun suku Nataia, ketika ada tamu yang memasuki rumah adat, tamu tersebut harus menjalani ritual pembersihan diri terlebih dahulu. Arnol Dju Wea, seorang tokoh adat, juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan politisi muda tersebut. Dia berharap kunjungan Frans Aba sebagai bakal calon Gubernur NTT bukan yang terakhir kali. “Saya juga berterima kasih atas kesempatan yang luar biasa ini sehingga bisa diterima secara budaya. Kami mendoakan Bapak Frans,” jelasnya.
Sebagai seorang yang lahir dan tumbuh dalam budaya, Frans Aba sangat terharu dengan sambutan hangat dari suku Nataia di Nagekeo. Baginya, sambutan yang diberikan oleh Ketua Suku Nataia merupakan hal yang luar biasa. “Penerimaan adat ini menjadi pembelajaran bagiku agar saya benar-benar serius dalam menjaga warisan budaya nenek moyang kita. Ini sungguh luar biasa,” ungkap Frans Aba dengan penuh perasaan.
Tidaklah mengherankan bahwa sejak awal, Frans Aba telah menunjukkan kepedulian yang besar terhadap investasi di bidang kebudayaan. Hingga saat ini, sektor kebudayaan sering diabaikan begitu saja.
“Budaya dan adat istiadat merupakan kekayaan yang harus kita pegang dan jaga dengan baik. Oleh karena itu, saya siap menjadi pemimpin yang tidak akan pernah melupakan adat istiadat kita, yang peduli bukan hanya pada Allah, tetapi juga pada arwah nenek moyang, dan juga alam sekitar. Jika saya melupakan adat istiadat, berarti saya melupakan jati diri saya sendiri,” tegasnya.
(Desy)






