SERGAP.CO.ID
KUPANG, || Telah 25 Tahun berdiri SDK Sta. familia Sikumana berkiprah degan tentunya selalu memberikan karya dan kontribusi membangun kualitas dalam membangun pendidikan di Kota Kupang.
Dalam momentum itulah keluarga besar SDK Sta.Familia Sikumana Kupang yang hari ini Sabtu, 17 Juni 2023, merayakan pesta perak, 25 tahun berkarya.
Diketahui Lembaga pendidikan ini melewati jejak sejarah panjang hingga menghantarnya memasuki usia pengabdian Perak, 25 tahun; sebuah usia yang mulai beranjak dewasa dan matang dalam konteks perjalanan hidup seorang anak manusia.
Napak tilas SDK Santa Familia Kupang mulai dari tahun 1998 sampai tahun 2023 tentu ditilik sebagai momentum refleksi, bersyukur atas cinta dan anugerah Tuhan akan perjalanan bakti lembaga ini. Sekolah ini terus maju bersama semua stakholders terutama pemerintah daerah dalam satu tujuan membangun sumber daya manusia yang berkualitas unggul.
Adapun SDK Santa Familia Kupang didirikan oleh Yayasan Mgr. Gabriel Manek,SVD dan dikelola oleh Susteran PRR beralamat di Jalan Oebolifo III Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur.
Awalnya Yayasan Mgr.Gabriel Manek,SVD hanya membuka jenjang pendidikan TK/PAUD dan SD, kemudian perlahan menghadirkan juga lembaga pendidikan tingkat menengah dan pendidikan atas. Ada TK Santa Familia, SDK Santa Familia, SMP Santa Familia dan SMA Santa Familia di kawasan Sikumana Kota Kupang.
Tentang perjalanan SDK Santa Familia Kupang boleh dibilang tidak mulus. Kepala Sekolah Sr. Maria Sylvia,PRR. S.Pd berkisah bahwa lembaga pendidikan yang bernafaskan iman katolik itu lahir sejak tahun 1998 atas inisiatif Suster- Suster Kongregasi PRR yang berkantor pusat di Larantuka, Flores Timur.
Inisiatif itu tentu mengilhami semangat Mgr. Gabriel Manek,SVD sosok Uskup pertama asal Nusa Tenggara Timur selaku perintis dan pelindung tarekat ini. Usai sang Uskup meninggal, para suster kongregasi PRR saat itu kemudian memikirkan apa karya nyata yang bisa diwariskan bagi umat, gereja, dan bangsa sesuai cita-cita pendirinya Uskup Gabriel Manek.
Salah satu pesan mendiang Mgr.Gabriel Manek adalah bahwa Ia ingin mewariskan nilai-nilai sukacita injili, mewartakan kabar baik kepada orang lain terutama mereka yang hidup dalam belenggu kesulitan selain membesarkan kehidupan gereja lokal. Salah satu aksi nyata adalah peningkatan SDM melalui pendidikan.
Panggilan nurani dan cinta akan mereka yang terbelenggu secara ekonomi itu kemudian diwujudkan oleh para suster dengan mendirikan sekolah mulai dari TK- SD- SMP- dan SMA yang berada persis di kompleks gereja Santa Familia Sikumana Kota Kupang.
Awal Yang Penuh Keterbatasan
Kepada fortuna.press pekan lalu di ruang kerjanya, Kepala Sekolah SDK Santa Familia Sr. Maria Sylvia,PRR, S.Pd mengatakan bahwa SDK Santa Familia Kupang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia dengan SK.Pendirian Nomor 247/SKEP/HK/1998, tanggal 24 September 1998. Sementara Izin operasional sesuai SK. 1102/1.21/20/LL/99 tanggal 17 Juni 1998.
Proses belajar mengajar pada awal tahun 1998 diluksikan sangat minus dan penuh dengan keterbatasan. KBM dimulai dari sebuah rumah belajar yang sempit dan kumuh. Meski demikian, karena komitmen pada peningkatkan kualitas pendidikan anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah maka proses itu terus berjalan, jumlah siswa perdana sekolah itu harus diakui sangat sedikit.
Saat itu juga para suster melakukan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi guru yang terbatas. Mereka siap bekerja secara sukarela atau tidak digaji.
Salah satu guru senior SD Katolik Santa Familia, Melky Parera,S.Pd mengatakan sekolah itu mulia beroperasi dan terus berjalan hanya karena semangat mengabdi. Ada panggilan jiwa yang lebih utama ketimbang urusan ekonomi. Misi mulia yang diusung para suster dari komunitas PRR untuk peningkatan SDM kata dia, harus diakui sebagai pemicu lembaga terus berkembang hingga kini.
Melky yang adalah guru mata pelajaran PJOK tersebut mengucapkan syukur atas kemurahan Tuhan maka lembaga yang awalnya tertatih-tatih bisa merangkak bangkit dan mulai menemukan polanya karena komitmen pengabdian dari para suster komunitas PRR, kepercayaan orangtua dan juga dukungan para pihak.
“Dengan semangat dan komitmen pada penerapan visi misi, roh kekatolikan serta selalu mengandalkan campur tangan Tuhan maka sekolah itu lambat laun maju dan mendapat perhatian para pihak terutama ada kepercayaan dari para orangtua untuk menyekolahkan anaknya disini,” kata dia.
Terima Kasih Untuk Semua
Suster Sylvia menjelaskan data sekolah hingga kini tercatat ribuan siswa menjadi alumni dan “menjadi orang” karena ditempah di SDK Santa Familia Kupang. Ada sejumlah lulusan yang telah berkarya diberbagai bidang tugas di sektor pemerintah, swasta dan sebagainya, pun ada yang masih aktif kuliah diberbagai kampus di seantero nusantara .
Lembaga pendidikan yang diasuhnya itu telah melewati etape pertama yang sulit dan penuh tantangan. Ada masa- masa suram namun juga dinikmati penuh sukacita selama 25 tahun berkarya.
Dikatakan, hal yang menguatkan bagi dirinya dan para guru adalah semangat pengabdian bagi gereja dan bangsa untuk terus mendidik dan melahirkan generasi Indonesia yang berkarakter unggul, berdaya saing serta bernafaskan iman Katolik.
“Kami 25 tahun bertati- tati, mulai dari ruang kelas yang sederhana, guru yang bekerja secara sukarela sampai kondisi hari ini menjalankan proses belajar mengajar mulai lebih baik di gedung yang lebih representatif. Terima kasih untuk semua, “ujarnya
Menurut Suster Sylvia, 25 tahun berkarya bukanlah waktu yang pendek namun berkat kerja keras dari yayasan, civitas akademika, komite sekolah, dukungan para pihak terutama orangtua serta fasilitas pembelajaran yang terus dibenahi maka lembaga dapat berdiri tegak dan menyelenggarakan satuan pendidikan secara berkualitas
Tambahan RKB dan Lab Komputer
Diuraikan bahwa saat ini SDK Santa Familia Kupang mendidik 414 orang siswa yang dibagi dalam 17 rombongan belajar (rombel), diasuh oleh 22 guru mata pelajaran dan 6 orang karyawan teknis operasional.
Dukungan fasilitas dan sarana prasaran juga mulai membaik diantarnya ada ruangan kelas, ruang guru, ruangan perpustakaan, UKS, gudang dan toilet dengan halaman yang cukup untuk ukuran rombel saat ini.
Saat ini pihaknya masih membutuhkan tambahan 2 ruang kelas baru (RKB), ruang audiovisual atau ruang laboratorium komputer dan sebuah aula mutifungsi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kreativitas anak-anak didik.
“Sementara ini ruangnya pas karena kita sekat aula untuk 2 kelas baru, kedepan kita butuh lagi 2 ruang kelas, 1 aula dan ruang lab computer. Kalau tahun kita terima tiga rombel lagi maka akan kesulitan ruang kelas baru, “katanya
Dia berharap dengan kondisi lahan yang terbatas maka kedepan bangunan gedung sekolah bisa ditingkatkan 2 lantai sehingga ada aula, kantor dan ruang multi fungsi sehingga civitas akademika bisa lebih leluasa berekspresi.
Satu harapan juga adalah akan disiapkan bus sekolah tahun ini sehingga bisa memfasilitasi anak-anak yang tinggalnya jauh atau orangtuanya tidak bisa antar jemput karena harus bekerja. Teknis operasional bus sekolah tersebut akan disepakati bersama dengan orangtua murid.
Mendidik Siswa Lintas Agama
Saat ini proses KBM di SDK Santa Familia Kupang dibantu 28 orang tenaga diantaranya 22 orang guru mata pelajaran, 1 Kepala Sekolah, tenaga IT dan operator sekolah, serta 1 orang security.
Meskipun sebagai sekolah katolik, pengelola SDK Santa Familia Kupang juga menerima siswa dari agama lain. Dari total 414 orang siswa, sekitar 40 prosen beragama Kristen Protestan dan Islam. Mereka semua berpadu dalam satu semangat belajar yang sama tanpa ada perbedaan perlakuan.
“Sekolah ini bernafaskan iman Katolik tetapi guru dan siswanya tidak semua katolik, bahkan dari 414 orang siswa sekitar 40 persen siswa beragama Protestan dan Islam. Kita bersyukur bahwa lembaga ini tidak hanya dipercaya oleh orang katolik tapi dari berbagai agama yang mau menyekolahkan anaknya disini,” ujar Suster Sylvia meyakinkan.
Yayasan juga memfasilitas sejumlah anak panti asuhan untuk boleh mengakses pendidikan yang sama di lembaga itu dengan perlakuan khusus sesuai pesan Sang Pelindung Tarekat tentang “kasih yang menyelamatkan”
Meski demikian dalam KBM tetap berjalan dalam nuansa katolik dan siswa beragama lain tetap menyesuaikan karena para orangtua sudah menandatangani surat pernyataan. Kedepan katanya akan ditambah lagi guru agama Kristen dan Guru agama Islam bila memang dibutuhkan.
“Kita tidak bisa pertahankan identitas sekolah katolik jadi siswanya harus katolik saja, kita harus menyesuaikan karena katolik itu universal nilainya,” ujar dia.
Pentas Seni dan Pemeran Kreatif Anak
Salah satu wujud syukru atas Pesta Perak ini adalah digelarnya pentas seni budaya daerah dan pameran kreatif anak. Ratusan Siswa SDK Santa Familia Kupang tampil luar biasa dalam ajang Pentas Seni (Pensi) Budaya dan pameran karya kreatif anak-anak di halaman sekolah, Kamis, 15 Juni 2023. Kegiatan tersebut dalam rangka memeriahkan Pesta Perak, 25 tahun sekolah yang jatuh pada tanggal 17 Juni 2023.
Even pentas seni budaya tersebut menampilkan aneka tarian etnis Nusa Tenggara Timur, lagu-lagu daerah khas NTT, fashion show motif NTT dan fashion show busana moderen, tarian dan lagu daerah NTT dalam kolaborasi dengan seni bela diri, juga berbagai acara lainnya.
Hadir langsung menyaksikan acara akbar itu Ketua Yayasna Gabriel Manek Sr. Yustisia,PRR, Kepala SDK Sta.Familia Sr.Maria Sylvia,PRR,SPd, para suster, para guru, serta ratusan orangtua dan siswa sekolah tersebut.
Pantauan media, anak-anak mulai dari kelas I hingga kelas VI tampil memukau dengan dengan aneka pilihan acara. Mereka tampil cantik dengan aneka busana tenun daerah NTT dan juga kostum fashion lain yang sangat menghibur ratusan audiens yang memenuhi halaman sekolah itu.
Kepala Sekolah SDK Santa Familia Kupang Sr. Maria Sylvia, PRR, S.Pd disela- sela menyaksikan kegiatan tersebut memberi apresiasi bagi ratusan anak yang tampil luar biasa, berani, penuh kreasi dan sangat menghibur.
“Anak- Anak kita memang luar biasa. Paling penting dari kegiatan ini adalah melatih mental dan keberanian anak-anak untuk tampil didepan publik dan syukur mereka bisa lakukan itu dengan sangat baik,” puji Suster Sylvia
Dia mengatakan selain untuk melatih mental anak-anak, tujuan kegiatan Pentas Seni Budaya daerah tersebut juga ingin mengajarkan kepada anak-anak untuk mengenal dan mencintai potensi seni budaya daerah NTT yang diwariskan nenek moyang.
Mereka juga diajak untuk terbiasa dengan kerjasama dan kolaborasi dalam setiap mata acara yang tampil dan bentuk tim sehingga bisa menghasilkan sebuah gerak tari dan panggung yang apik, rapih dan menghibur.
Untuk sesi pameran kata Suster Sylvia, menampikan aneka karya kreatif anak-anak untuk menjadikan produk sampah plastik menjadi sebuah karya yang bernilai lebih, juga beberapa karya kreatif lainnya yang indah dan bernilai ekonomi.
Dalam kaitan dengan pameran ini, pihak sekolah ingin mengedukasi anak-anak untuk melatif kreatifitas mereka dalam melihat sebuah masalah katakana “sampah plastik” yang kini menjadi momok dan terus diperangi bersama.
Suster Sylvia mengucapkan terimaka kasih kepada seluruh anak-anak yang telah berpartisipasi dalam setiap kegiatan, juga kepada Ketua Komite Sekolah Bapak Paulus Pare yang adalah Ketua Panitia Pesta Perak, tim panitia, rekan guru dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan kali ini.
Agnes salah satu orangtua siswa yang menyaksikan penampilan anaknya saat itu mengaku sangat terharu dan bangga dengan anak-anak yang memang menyuguhkan karya-karya seni yang indah,lucu dan sangat menghibur.
“Kita berterima kasih kepada para bapak ibu guru yang bisa melatih dan mengajarkan anak-anak kita tampil sangat bagus, berani dan lucu tapi menghibur,” katanya
Sementara Ketua Panitia Pelaksana Pesta Perak SDK St.Familia, Paulus Pare,S.Pd mengatakan, perayaan puncak HUT Perak Sekolah akan digelar pada hari Sabtu, 17 Juni 2023 di halaman sekolah.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Misa Syukur bersama dan Seremonial Perayaan Pesta Perak yang akan dihadiri oleh sejumlah pejabat dari pemerintah Provinsi NTT, Penjabat Walikota Kupang George Hadjoh, Anggota DPRD NTT dan Anggota DPRD Kota Kupang, Pimpinan Yayasan dan Pimpinan Kongregasi Susteran PRR dan para suster, perwakilan dari keluarga besar TK, SMP dan SMA Santa Familia juga seluruh siswa dan orangtua murid.
(Dessy)






