Ketua DPRD Pessel, Ermizen : Nelayan di Pessel masih Butuh Harapan Maksimal. Agar Benar-Benar Memberikan Kesejahteraan Bagi Masyarakat Nelayan

SERGAP.CO.ID

KAB. PESSEL, || Bagian perikanan laut yang memiliki potensi sangat besar di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) masih membutuhkan pengharapan maksimal. Agar benar-benar bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat nelayan di daerah itu. Sebab potensi produksinya di daerah itu mencapai 100 ribu ton per tahun.

Bacaan Lainnya

“Karena sangat besar, sehingga diyakini bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat nelayan. Sebab hingga saat ini, rata-rata capaian produksinya baru berada dikisaran 30-35 ribu ton per tahun,” kata Ketua DPRD Pessel, Ermizen kemarin (3/5).

Kepada pemerintah kabupaten (Pemkab) Pessel dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan di daerah itu harus benar-benar tercapai. Diakuinya bahwa keterbatasan sarana tangkap merupakan salah penyebab produktivitas masyarakat nelayan di daerah itu rendah.

“Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah, sebab dengan potensi produksi perikanan mencapai 100 ribu ton per tahun, maka sektor ini perlu sentuhan teknologi dan sarana tangkap yang memadai,” ungkapnya.

Ditambahkannya bahwa saat ini, selayaknya pemerintah daerah melalui pihak terkait lebih mengutamakan pembangunan yang berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian masyarakat.“Upaya ini juga bisa dilakukan dengan cara menggenjot sektor perikanan melalui sentuhan-sentuhan program kerakyatan,” jelasnya.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan Pessel, Firdaus mengatakan bahwa pihaknya saat ini memang terus berupaya memberikan dorongan kepada masyarakat nelayan. Agar terus memaksimalkan produktivitasnya dalam mengelola sektor perikanan.

“Saya akui minimnya ketersediaan sarana tangkap, menjadi salah satu penyebab produktivitas masyarakat nelayan masih rendah di daerah ini. Agar potensi produksi perikanan laut mencapai 100 ribu ton per tahun itu bisa digarap maksimal, maka produktivitas mereka perlu terus ditingkatkan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa salah satu upaya yang terus dan juga tengah dilakukan saat ini adalah melalui peningkatan sarana dan prasarana tangkap.“Upaya ini sebenarnya telah kita lakukan sejak enam tahun terakhir melalui bantuan mesin tempel. Melalui upaya itu, sehingga sebagian besar masyarakat nelayan di daerah ini tidak lagi turun melaut dengan menggunakan perahu dayung. Minimal perahu yang mereka pakai menggunakan mesin pendorong atau long tail,” ujarnya.

Ditambahkan lagi bahwa menggunakan perahu dayung atau perahu layar untuk menangkap ikan di laut, sangat menantang dan rawan terhadap keselamatan.“Sebab nelayan tidak bisa bergerak dengan cepat menghindar atau menyelamatkan diri ketika terjadi cuaca buruk. Beda bila menggunakan perahu motor, mereka bisa bergerak cepat ketika ancaman badai dan gelombang besar datang. Karena bisa bergerak cepat, maka ancaman terhadap risiko keselamatan juga kecil. Demikian juga dengan tingkat produktivitas dan hasil produksi yang didapatkan setiap kali turun melaut,” ungkapnya.

Diakuinya bahwa menangkap ikan dengan menggunakan perahu tradisional dengan mesin pendorong long tail, masih membuat produktivitas masyarakat nelayan masih rendah. Akibatnya membuat rata-rata produksi ikan di daerah itu baru tercapai sekitar 30  hingga 35 ribu ton saja per tahun.

Saat ini jumlah armada tangkap berupa mesin tonda, kapal payang, dan perahu yang menggunakan mesin lainnya ada sebanyak 2.392 unit di Pessel.

(WH).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *