SERGAP.CO.ID
KOTA BIMA || Memperingati HUT Kota Bima ke-21 Walikota H.Muhammad Lutfi dan Wakil walikota Ferry Sofian, menggelar Pawai Rimpu yang melibatkan seluruh masyarakat Kota Bima.
Wakapolres Kota Bima, Kompol Mujahidin, S.Sos turut hadir dalam acara Pawai Rimpu Pesona Rimpu mantika 2023 di Halaman Kantor Pemerintah kota Bima,Minggu (7/5/2023).
Sabagai putra Daerah Bima, Kompol Mujahidin sangat bangga adanya perhatian dari pemerintah untuk melestarikan salah satu budaya leluhur, yang kembali digaungkan di era modern. ujarnya.
“Mari kita sama sama terus menjaga Kamtibmas dalam wilayah hukum kota Bima, agar kita bisa hidup tentram rukun dan terus menggaungkan pertumbuhan Ekonomi untuk kota Bima tercinta”.tutupnya.
Diperkirakan sebanyak 50 ribu lebih masyarakat kota bima Tumpah ruah memadati jalan Soekarno-Hatta menuju ke halaman kantor walikota dari berbagai kelurahan dan instansi pemerintah, maupun BUMN, juga Paguyuban dari berbagai Daerah yang berdomisli di Kota Bima.
Selain Festival Rimpu, Walikota Bima juga mengadakan Door Price dengan berbagai undian berhadiah dari alat Elektronika hingga Kendaraan Sepeda Motor. Seluruh Masyarakat yang hadir mengikuti Pawai Rimpu berhak mendapatkan Kupon berhadiah tersebut.
Pawai Rimpu tahun 2023 agak berbeda dengan Pawai Rimpu tahun lalu, karena Pelaksanaan Pawai Rimpu yang di gelar ini sebagai perayaan HUT Kota Bima ke-21 tahun 2023, yang di hadiri oleh Pejabat Kementerian Pariwisata RI, Anggota DPR RI Dapil NTB, Pejabat Pemerintah Provinsi Ntb, Korem 162/WB, Kodim 1608/Bima, Wakopolres Bima Kota, Kepala Imigrasi Kelas III Non TPI Bima, Ketua dan Anggota DPRD Kota Bima, maupun seluruh Instansi Pemerintah Kota Bima, BUMN, dan seluruh Peguyuban Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura, Jawa Barat, Betawi, Sulawesi, dan Sejumlah Peguyuban Daerah Lain yang ada di Kota bima.
Walikota Bima H. Muhammad Lutfi mengungkapkan rasa haru dan bangga atas partisipasi yang begitu besar dari seluruh masyarakat kota bima dalam merayakan HUT Kota Bima Ke – 21 tahun 2023.
” Saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh masyarakat kota yang sudah mendukung kegiatan Pawai Rimpu sebagai wajud pelestarian Budaya Bima”. Papar walikota.
SEJARAH LAHIRNYA RIMPU BIMA
Rimpu merupakan sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima . Budaya “rimpu” telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima menerima islam yang dibawa oleh orang-orang Sulawesi melalui hubungan antara kerajaan Bima dengan Goa. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam).
Rimpu pertama kali diperkenankan setelah masuknya Islam di Kesultanan Bima, sebagai bentuk pengejewantahan ajaran Islam dalam menutup aurat bagi setiap wanita muslimah. Tradisi rimpu lahir dari perjumpaan antara ajaran agama Islam dengan budaya lokal masyarakat setempat.
Rimpu adalah cara berbusana masyarakat Bima-Dompu yang menggunakan sarung khas Bima-Dompu. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”Katente Tembe” (menggulungkan sarung di pinggang).
BAHAN PEMBUATAN TEMBE NGGOLI (SARUNG TENUN) BIMA-DOMPU
Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima-Dompu dikenal sebagai Tembe Nggoli dan Tembe Songke (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima-Dompu yang dikenal dengan muna. Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkih), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon).
(Obama)






