KOTA SUBULUSSALAM, || Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh memiliki keunikan tersendiri dibandingkan daerah lain di Indonesia. Jika umumnya diperingati pada 12 Rabiul Awal, di Serambi Mekkah perayaan Maulid berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.
Tradisi tersebut dikenal dengan istilah Maulod yang diperingati pada bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal. Hal ini menjadi wujud kecintaan masyarakat Aceh yang mendalam kepada Rasulullah SAW.
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Subulussalam, Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa tradisi tiga bulan ini memiliki nilai filosofis dan historis yang kuat.
“Di Aceh, Maulid bukan hanya seremonial satu hari. Masyarakat merayakannya selama tiga bulan sebagai bentuk mahabbah yang total kepada Rasulullah. Bulan pertama untuk kalangan umum, bulan kedua untuk santri dan ulama, dan bulan ketiga sebagai penutup sebagai bentuk syukur yang berkesinambungan,” ujar Agustari, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, momentum Maulid yang panjang ini sangat tepat untuk kembali mengenalkan kemuliaan nasab dan akhlak Rasulullah kepada generasi muda.
Ia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, kabilah paling terhormat dari suku Quraisy di Makkah.
“Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf. Dari jalur ibu, Siti Aminah binti Wahab, berasal dari Bani Zuhrah. Kedua nasab mulia ini bertemu di Kilab bin Murrah, menunjukkan betapa terjaganya nasab beliau hingga bersambung kepada Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS,” jelasnya.
Agustari menilai, tradisi khanduri maulod dengan hidangan kuah beulangong, dalail khairat, dan pembacaan shalawat selama tiga bulan di Aceh adalah metode dakwah kultural yang efektif.
“Di Aceh, setiap gampong, dayah, dan meunasah memperingati Maulid secara bergiliran selama tiga bulan. Ini bukan pemborosan, tapi syiar. Selama tiga bulan, gema shalawat tidak pernah putus di Bumi Aceh. Dari sinilah kita mengenalkan bahwa Rasulullah bukan hanya untuk dirayakan, tapi untuk diteladani,” pungkasnya.
(Dh@r).






