BBWS Nusa Tenggara II Tingkatkan Penanganan 17 Bendungan, Perkuat Irigasi dan Dukung Petani

SERGAP.CO.ID

KUPANG, ||  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja (Satker) Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Nusa Tenggara II meningkatkan penanganan bendungan pada 2026.

Bacaan Lainnya

Tahun ini, pengelolaan mencakup 17 bendungan, meningkat dari 16 bendungan pada tahun sebelumnya.

Peningkatan penanganan tersebut diarahkan untuk menjaga fungsi bendungan dan jaringan irigasi, sekaligus mendukung produktivitas serta pendapatan petani.

BBWS Nusa Tenggara II menargetkan hasil pertanian meningkat dari sekitar tiga ton menjadi lima hingga enam ton per hektare.

PPK OP SDA IV Nusa Tenggara II, Lalu Siswandi, ST., MT., mengatakan peningkatan cakupan pengelolaan dibarengi penguatan operasi dan pemeliharaan agar seluruh infrastruktur bendungan tetap berfungsi optimal.

Hal itu disampaikan Siswandi kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).

Caption : Perbaikan aset Fasilitas bendungan.

Menurutnya, realisasi pemeliharaan berkala hingga September 2026 telah mencapai sekitar 90 persen. Pemeliharaan tersebut mencakup sejumlah bendungan, antara lain Bendungan Benkoko di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, serta Bendungan Matasio di Rote Timur.

 

Di Bendungan Benkoko, pekerjaan penambahan dua ruangan ditargetkan rampung pada bulan berikutnya. Sementara itu, penanganan longsor akibat faktor alam di Bendungan Napun Gete telah mencapai sekitar 99 persen setelah dilakukan pengerukan material longsoran.

Di Bendungan Matasio, BBWS Nusa Tenggara II membangun fasilitas pendukung karena sebelumnya belum tersedia kantor dan rumah jaga. Saat ini, pemasangan atap sedang dilakukan. Tahun depan, listrik ditargetkan tersedia di Bendungan Matasio dan Benkoko untuk mendukung kinerja petugas di lapangan.

Selama ini, kebutuhan penerangan di Bendungan Matasio masih mengandalkan lampu tenaga surya. Dengan tersedianya listrik, fasilitas operasional diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Selain itu, BBWS Nusa Tenggara II membangun jembatan penghubung di salah satu lokasi bendungan di Maumere untuk meningkatkan keselamatan dan akses petugas. Sebelumnya, petugas harus menempuh jarak cukup jauh dengan kondisi medan licin saat mengoperasikan bendungan.

“Karena jaraknya cukup jauh dan kondisi medan licin, kami membuat jembatan gantung sepanjang 16 meter. Ini untuk mempermudah akses sekaligus mengurangi risiko bagi petugas,” jelas Siswandi.

Kegiatan operasi dan pemeliharaan juga meliputi operasi rutin, pemeliharaan rutin, serta pemeliharaan berkala. Pekerjaan tersebut mencakup pembayaran tenaga operasional, pembersihan rumput dan semak, pembersihan sampah, pengecatan, pemeliharaan kawasan bendungan, serta rehabilitasi sejumlah fasilitas.

“Operasi rutin dan pemeliharaan terus kami lakukan untuk menjaga fungsi bendungan. Kami juga mengevaluasi kondisi masing-masing bendungan agar penanganannya sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Siswandi.

Hingga September 2026, operasi rutin masih berjalan karena anggaran operasional tersedia untuk mendukung kegiatan hingga Desember. Untuk pemeliharaan rutin, pembersihan sampah, rumput, dan semak dilakukan secara berkala. Pengecatan sejumlah bagian bendungan juga dievaluasi berdasarkan kondisi fisik di lapangan.

Dari sisi anggaran, kebutuhan operasi rutin mencapai lebih dari Rp7 miliar, sedangkan kegiatan pembersihan sekitar Rp8,9 miliar. Secara keseluruhan, kegiatan OP SDA melibatkan sekitar 160 tenaga dengan total anggaran sekitar Rp18 miliar.

Siswandi menegaskan, pelaksanaan kegiatan tetap diarahkan untuk memaksimalkan fungsi bendungan meskipun terdapat kebijakan efisiensi anggaran. Optimalisasi operasi dan pemeliharaan bendungan menjadi bagian penting dalam mendukung program swasembada pangan, khususnya melalui penguatan sistem irigasi.

“Kami berkomitmen memaksimalkan pekerjaan yang ada meskipun terdapat efisiensi anggaran. Apalagi bendungan dan jaringan irigasi sangat penting untuk mendukung program swasembada pangan,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan bendungan dan jaringan irigasi dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.

“Harapannya kegiatan OP ini bisa mendukung peningkatan pendapatan petani. Dari yang sebelumnya sekitar tiga ton per hektare, diharapkan bisa meningkat menjadi lima sampai enam ton per hektare,” katanya.

Siswandi juga mengajak masyarakat ikut menjaga aset dan fasilitas yang berada di kawasan bendungan, bukan hanya memanfaatkan sumber daya air yang tersedia.

“Semoga fasilitas yang ada dapat bermanfaat bagi masyarakat. Bukan hanya airnya yang dimanfaatkan, tetapi fasilitas seperti toilet, perahu, tempat wudu, dan sarana lainnya juga harus dijaga bersama,” pungkasnya.

(Desy)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *