Di Atas Makam Pahlawan, Kajati NTT Roch Adi Wibowo Segarkan Sumpah Integritas Kejaksaan

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Sebelum merayakan ulang tahun ke-81 dengan seremoni di dalam kantor, jajaran Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur memilih memulai hari dengan hening. Di bawah langit pagi Kupang yang masih sejuk, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Roch Adi Wibowo, memimpin ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Dharma Loka, Selasa (1/9/2026).

Bacaan Lainnya

Ini bukan sekadar ritual tahunan. Di tengah guncangan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum, ziarah ini menjadi momen refleksi kolektif. Tema yang diusung Kejati NTT tahun ini cukup berat: “Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Penegakan Hukum Berintegritas, Adil dan Humanis.” Sebuah pengakuan implisit bahwa legitimasi Kejaksaan tidak lagi bisa didapat hanya dari kekuasaan, melainkan dari integritas yang terbukti.

Roch Adi Wibowo, didampingi para pejabat utama Kejati NTT, jajaran Kejaksaan Negeri Kota dan Kabupaten Kupang, serta keluarga besar Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD), berdiri khidmat di depan nisan-nisan tanpa nama. Proesi peletakan karangan bunga dan penaburan kelopak bunga dilakukan dengan perlahan. Setiap helai bunga yang jatuh ke tanah seolah menjadi janji untuk tidak mengkhianati darah yang telah tumpah demi negara.

“Semangat perjuangan para pahlawan harus menjadi inspirasi kami,” ujar Roch usai prosesi, sebelum mengisi buku tamu TMP Dharma Loka. Pesan itu sederhana namun menohok: tugas sebagai insan Adhyaksa bukan hanya soal memenjarakan tersangka, tetapi tentang bagaimana keadilan dirasakan secara humanis oleh masyarakat.

Ziarah yang berlangsung pukul 07.00 hingga 08.00 WITA ini menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Lahir Ke-81 Kejaksaan RI di tingkat provinsi. Dengan memulai hari di antara para pahlawan, Kejati NTT ingin mengingatkan setiap jaksa dan stafnya bahwa di balik berkas perkara, ada nyawa, harga diri, dan harapan rakyat yang sedang dipertaruhkan.

Bagi Roch Adi Wibowo dan jajarannya, mengembalikan kepercayaan publik tidak dimulai dari konferensi pers yang gemerlap, melainkan dari keheningan di atas makam pahlawan, tempat di mana ego pribadi harus mati agar keadilan bisa hidup.

(Desy)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *