ENDE, || Kalimat “Flores tidak sendirian” tidak hanya sekadar slogan yang digaungkan dari kejauhan. Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, SH, MH, membawanya langsung ke tengah-tengah masyarakat yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Ende. Pada Minggu (30/8/2026), Rocky bersama rombongan Pemerintah Kabupaten Alor tiba di Ende membawa bantuan senilai sekitar Rp265 juta berupa tikar, selimut, sembako, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Kedatangan rombongan Pemkab Alor di Bandara Aroebusman Ende disambut oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Ende. Dari bandara, mereka langsung bergerak menuju Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende untuk penyerahan bantuan secara resmi. Rombongan tersebut terdiri dari Kepala Pelaksana BPBD Alor Obeth Bolang, Staf Ahli Pemkab Alor Martinus De Porres, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Marsel Bayobilly, serta sejumlah personel BPBD Kabupaten Alor.
Di posko, bantuan diterima langsung oleh Wakil Bupati Ende, Dominikus Mere, bersama Asisten II Setda Ende, Kepala BPBD Kabupaten Ende, dan sejumlah pejabat terkait. Penyerahan ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima sebagai bukti solidaritas antar-daerah.
Menembus Medan Berat ke Maukaro
Namun, misi kemanusiaan Rocky Winaryo tidak berhenti di pusat kota. Setelah seremonial di posko, ia memilih melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Maukaro, wilayah di bagian utara Kabupaten Ende yang menjadi salah satu zona terdampak parah akibat gempa 15 Agustus 2026.
Untuk mencapai lokasi tersebut, rombongan harus menempuh perjalanan darat selama sekitar tiga jam. Dengan kondisi jalan pascabencana yang menantang, perjalanan pulang-pergi memakan waktu hingga enam jam. Keputusan untuk datang langsung ini diambil Rocky untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan melihat secara nyata kondisi warga di lapangan.
“Bantuan ini mungkin tidak bisa menghapus penderitaan yang dialami masyarakat, tetapi kami berharap dapat meringankan kebutuhan mereka. Yang paling penting, kami ingin menyampaikan bahwa Alor bersama Flores,” ujar Rocky saat berada di tengah warga.
Satu Keluarga, Satu NTT
Rocky Winaryo menegaskan bahwa kehadiran Pemkab Alor di Flores merupakan wujud nyata solidaritas antarsesama warga Nusa Tenggara Timur. Baginya, bencana yang menimpa Flores adalah duka bersama seluruh masyarakat NTT.
“Bencana di Flores adalah penderitaan kita bersama. Flores tidak sendirian. Karena itu, kami datang untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa,” kata Rocky.
Ia menambahkan, bantuan yang dibawa bukan semata-mata berasal dari anggaran pemerintah daerah, melainkan juga mencakup kepedulian masyarakat Alor yang turut berdonasi. “Ini adalah bentuk kepedulian Pemerintah dan masyarakat Alor. Kami ingin hadir bersama saudara-saudara kita di Flores. Ketika mereka mengalami musibah, kita juga merasakan penderitaan itu dan sudah seharusnya kita saling membantu,” jelasnya.
Kehadiran fisik wakil bupati di lokasi terdampak dinilai menjadi pesan moral yang kuat: bahwa solidaritas tidak berhenti pada pengiriman logistik, tetapi juga pada kebersamaan dalam masa pemulihan. “Kita satu keluarga, satu NTT, dan harus saling menguatkan ketika ada saudara kita yang mengalami bencana,” tegasnya.
Misi Kemanusiaan Berlanjut ke Manggarai
Setelah menyelesaikan misi di Ende, bantuan kemanusiaan dari Pemkab Alor akan berlanjut ke tiga kabupaten lain di wilayah Flores, yaitu Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Alor, Marsel Bayobilly, menjelaskan bahwa penyerahan bantuan di ketiga kabupaten tersebut dijadwalkan dilanjutkan pada Senin (31/8/2026) oleh Staf Ahli Pemkab Alor bersama Kepala BPBD Kabupaten Alor.
Total bantuan yang dihimpun dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Alor mencapai sekitar Rp265 juta, yang seluruhnya dikonversi menjadi barang-barang kebutuhan mendesak sesuai permintaan di lapangan.
Bagi Pemkab Alor, angka nominal tersebut bukanlah ukuran utama. Di balik tumpukan tikar, selimut, dan sembako, terselip pesan persaudaraan yang mendalam dari ujung timur NTT untuk masyarakat Flores: bahwa dalam suka maupun duka, mereka tidak pernah berjalan sendiri.
(Desy)






