KOTA BANDUNG, sergap.co.id – Upaya mendorong peningkatan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi terus di lakukan melalui program pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan langsung warga.
Salah satunya di wujudkan melalui Pelatihan Barista Coffee yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Hanan selama 10 hari, mulai 27 Agustus hingga 7 September 2026.
Program tersebut merupakan bagian dari realisasi aspirasi masyarakat yang di himpun melalui kegiatan Reses Tahun 2025 Anggota DPRD Kota Bandung Komisi II Bidang Ekonomi, M. Adi Widyanto.
Pelatihan dengan tema “Peningkatan Keterampilan Pengusaha Muda di Bidang Coffee Menuju Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat” itu resmi di mulai di Cafe QeeBoo Coffee, Jalan Arcamanik Endah No. 4, Kota Bandung, Kamis (27/8/2026).
Sebanyak 60 peserta yang berasal dari masyarakat di wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) IV Kota Bandung mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan pembekalan keterampilan yang di harapkan dapat menjadi modal untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Tidak sekadar mengajarkan cara membuat dan menyajikan minuman berbasis kopi, pelatihan ini di rancang untuk memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai dunia usaha coffee shop. Peserta juga di bekali pengetahuan mengenai pengelolaan usaha agar keterampilan yang di peroleh dapat di kembangkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Narasumber dari LPK Hanan, Agung Sopian, S.Pd., M.M., yang memiliki pengalaman di bidang barista dan pengembangan usaha coffee, memberikan materi secara teori maupun praktik kepada peserta.
Materi pelatihan mencakup teknik dasar hingga pengolahan dan penyajian coffee secara modern. Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi pemasaran, manajemen keuangan, teknik pengemasan, pengelolaan usaha, serta berbagai aspek pendukung dalam membangun bisnis coffee.
Pembekalan tersebut di nilai penting karena kemampuan menjadi seorang barista tidak hanya berkaitan dengan keterampilan meracik minuman, tetapi juga perlu didukung kemampuan mengelola usaha, membaca peluang pasar, menjaga kualitas produk, hingga membangun strategi pemasaran yang tepat.
Melalui pelatihan yang berlangsung selama 10 hari tersebut, para peserta di harapkan mampu meningkatkan kompetensi dan memiliki kesiapan untuk menentukan pilihan setelah mengikuti program, baik menjadi barista profesional maupun mengembangkan usaha mandiri di bidang coffee dan kuliner.
Kegiatan ini sekaligus menjadi gambaran bagaimana aspirasi masyarakat yang di sampaikan melalui kegiatan reses dapat di terjemahkan menjadi program pemberdayaan yang memberikan manfaat secara langsung.
Pengembangan keterampilan di bidang coffee dinilai memiliki potensi ekonomi yang cukup terbuka. Pertumbuhan usaha kedai kopi, kafe, serta sektor ekonomi kreatif di Kota Bandung menjadi salah satu peluang yang dapat di manfaatkan masyarakat, khususnya generasi muda yang ingin memasuki dunia kewirausahaan.
Karena itu, keterampilan teknis yang di padukan dengan kemampuan manajemen usaha menjadi bekal penting agar masyarakat tidak hanya memiliki kemampuan bekerja, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan peluang usaha sendiri.
Melalui program tersebut, di harapkan muncul lebih banyak wirausaha baru yang mampu memanfaatkan keterampilan di bidang coffee sebagai sumber pendapatan sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya.
Pada akhirnya, pelatihan ini di harapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan meracik dan menyajikan coffee, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui keterampilan, kreativitas, dan kemampuan mengelola usaha secara profesional.
Dengan demikian, realisasi aspirasi masyarakat melalui program pelatihan tersebut di harapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas, terutama dalam meningkatkan keterampilan, membuka peluang usaha, serta mendorong terwujudnya kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
(Suryana)






