KOTA BANDUNG, sergap.co.id – Pelantikan Ketua dan pengurus Asosiasi Kuliner, Cafe dan Restoran (AKAR) periode 2026-2031 menargetkan penguatan kolaborasi antara pelaku usaha kuliner, sektor pariwisata dan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Ketua AKAR Arif Maulana mengatakan, setelah periode pertama difokuskan pada penguatan organisasi, kepengurusan periode kedua akan diarahkan pada perluasan jejaring dan sinergi antarpelaku usaha, termasuk lintas kota di Jawa Barat.
Hal itu disampaikan Arif dalam sesi jumpa pers seusai pelantikan Ketua dan Pengurus AKAR di Restoran Sindang Reret, Jalan Surapati No. 53, Kota Bandung, Rabu (26/8/2026).

Acara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, SE., Wali Kota Bandung H. Muhammad Farhan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, para tokoh, anggota AKAR serta undangan lainnya.
Menurut Arif, sektor restoran memiliki keterkaitan erat dengan pariwisata. Karena itu, AKAR mendorong terbentuknya kerja sama antara restoran, hotel dan destinasi wisata sehingga mampu menciptakan paket promosi yang memberikan manfaat bagi seluruh pelaku usaha.
“Kita ingin membangun sinergi antarestoran dan antarkota karena restoran tidak bisa dipisahkan dari pariwisata. Banyak peluang kolaborasi yang bisa dikembangkan,” ujar Arif.
Ia mencontohkan, wisatawan dapat memperoleh program khusus seperti potongan harga tiket destinasi wisata setelah menikmati kuliner di restoran yang tergabung dalam jaringan AKAR. Pihaknya juga berencana memperkuat promosi melalui pemetaan destinasi kuliner di Kota Bandung.
Arif menilai sektor kuliner mempunyai peranan penting bagi perekonomian Kota Bandung. Selain berkontribusi terhadap pendapatan daerah melalui pajak, industri restoran juga menjadi salah satu sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Namun, kondisi efisiensi anggaran pemerintah turut memberikan dampak terhadap industri restoran dan perhotelan. Berkurangnya kegiatan rapat dan pertemuan di luar kantor dinilai berpengaruh terhadap tingkat kunjungan dan konsumsi di hotel maupun restoran.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, AKAR juga mendorong terciptanya iklim usaha yang lebih sehat antara restoran formal dan pelaku usaha kaki lima.
Arif menegaskan, AKAR tidak bermaksud menjadikan PKL sebagai kompetitor. Sebaliknya, pelaku usaha kecil justru dinilai memiliki peran penting karena banyak restoran yang berkembang dari usaha kaki lima.
“Embrio restoran itu banyak yang berasal dari kaki lima. Karena itu, kita tetap merangkul dan mendorong pembinaan agar mereka bisa berkembang,” katanya.
Selain penguatan usaha, AKAR juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas pelayanan dan sumber daya manusia, khususnya hospitality. Menurut Arif, kualitas pelayanan menjadi faktor penting dalam memberikan pengalaman positif kepada wisatawan yang berkunjung ke Bandung.
“Bagaimana hospitality dan pelayanan kita terus ditingkatkan. Ketika wisatawan datang, mereka harus mendapatkan pelayanan yang baik dan merasa nyaman,” ujarnya.
Arif berharap dukungan serta sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung terus diperkuat. Dengan kolaborasi tersebut, AKAR optimistis sektor kuliner dapat semakin berkontribusi terhadap pariwisata, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“AKAR siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengembangkan sektor kuliner dan pariwisata agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.***
(Suryana)






