KOTA TASIKMALAYA, || Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tasikmalaya menjadikan seni dan budaya sebagai ruang memperkuat persatuan masyarakat lintas etnis. Hal itu diwujudkan melalui Lomba Tembang Kenangan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Graha Asia Plaza, Jalan HZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang digagas Bidang Pemberdayaan Perempuan Etnis FPK Kota Tasikmalaya tersebut tidak sekadar menjadi ajang bernyanyi dan bernostalgia dengan lagu-lagu lama. Lebih jauh, kegiatan diarahkan sebagai wadah silaturahmi, ekspresi budaya, pemberdayaan perempuan, sekaligus mempererat pembauran masyarakat dari berbagai latar belakang etnis.
Ketua FPK Kota Tasikmalaya Syahrial Koto mengatakan, peringatan kemerdekaan harus dimaknai lebih luas. Menurutnya, kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga persatuan, kerukunan, dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.

“Lomba Tembang Kenangan bukan sekadar ajang bernyanyi atau bernostalgia dengan lagu-lagu masa lalu. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, ruang kebersamaan, dan sarana memperkuat pembauran kebangsaan,” kata Syahrial dalam sambutannya.
Ia menegaskan, masyarakat Kota Tasikmalaya berasal dari beragam etnis, budaya, adat istiadat, dan latar belakang. Namun, seluruh perbedaan tersebut harus ditempatkan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Menurut Syahrial, semangat tersebut sejalan dengan nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh, yang menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang saling menghargai.
“Bagi kita di FPK, juara bukanlah satu-satunya tujuan. Juara yang sesungguhnya adalah ketika keberagaman mampu kita jadikan kekuatan untuk membangun persatuan,” tegasnya.
Syahrial juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, baik melalui tenaga, pikiran, waktu maupun dukungan lainnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai ruang perjumpaan masyarakat lintas etnis di Kota Tasikmalaya.

Sementara itu, Kabid Kesbangpol Kota Tasikmalaya Ajat Sudrajat turut mengapresiasi pelaksanaan lomba tersebut. Ia berharap kegiatan yang menggabungkan seni, budaya, dan pembauran masyarakat itu dapat menjadi agenda rutin setiap tahun.
Menurut Ajat, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman etnis bukan penghalang untuk membangun kebersamaan.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi modal sosial apabila dikelola melalui komunikasi dan kegiatan bersama.
“Dengan adanya kegiatan ini tampak akrab dan kompak antar-etnis yang membaur dalam Forum Pembauran Kebangsaan Kota Tasikmalaya,” ujarnya.

Ketua pelaksana Merry Halapiry, didampingi Sekretaris Triyana Mahadisastra, menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, tamu undangan, pengurus FPK, perwakilan etnis, serta pihak-pihak yang ikut menyukseskan kegiatan.
Merry menjelaskan, pemilihan tembang kenangan memiliki pertimbangan tersendiri. Lagu-lagu lama dinilai mempunyai daya tarik lintas generasi dan mengandung nilai sejarah yang dapat menjadi media mempertemukan masyarakat dalam suasana santai dan positif.
Selain menjadi hiburan, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi perempuan dari berbagai latar belakang etnis untuk tampil, berkarya, serta mengambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kepada para peserta, Syahrial mengingatkan agar perlombaan dijalankan dengan penuh kegembiraan dan sportivitas. Ia meminta peserta tidak semata-mata mengejar kemenangan, tetapi memanfaatkan momentum tersebut untuk saling mengenal, menghargai, dan mempererat persaudaraan.
Di sisi lain, kegiatan kebudayaan semacam ini tetap membutuhkan keberlanjutan agar tidak berhenti sebagai seremoni peringatan kemerdekaan. Agenda rutin, pelibatan generasi muda, serta penguatan peran komunitas lintas etnis dinilai penting agar semangat pembauran benar-benar tumbuh dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
FPK Kota Tasikmalaya berharap Lomba Tembang Kenangan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberagaman sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.
Indonesia kuat karena keberagamannya, dan Tasikmalaya semakin kokoh ketika seluruh elemen masyarakat mampu hidup berdampingan dalam kebersamaan.
(Red)






