KOTA TASIKMALAYA, || SMAN 1 Kota Tasikmalaya memborong tiga penghargaan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) tingkat SMA/SMK/MA se-Kota Tasikmalaya Tahun 2026 yang diselenggarakan Kejaksaan Negeri Kota Tasikmalaya, Selasa, 22 September 2026.
Tiga penghargaan tersebut masing-masing Juara 1, Juara 3 dan Juara Favorit. Capaian itu menunjukkan kemampuan sejumlah siswa SMAN 1 Tasikmalaya dalam mengolah gagasan, menyusun karya ilmiah, melakukan presentasi, sekaligus berkompetisi dengan peserta dari berbagai satuan pendidikan di Kota Tasikmalaya.
Juara 1 diraih Rahmania dari kelas XII-2 dengan bimbingan Robi Sobirin, S.Pd., M.Pd. Rahmania dinilai mampu mempresentasikan karya ilmiahnya secara meyakinkan di hadapan dewan juri. Gagasan yang disampaikan juga disebut memiliki unsur orisinalitas serta menawarkan solusi terhadap persoalan yang diangkat.
Sementara Juara 3 diraih dua siswa kelas X-12, Fathir Ali Rayyan dan Gahitsa Zahira Saffa, di bawah bimbingan Feronika Sryudha Wihardyantie, S.Pd.
Tidak berhenti di dua gelar tersebut, Anindya dari kelas XII-1 juga berhasil memperoleh predikat Juara Favorit dengan bimbingan Robi Sobirin, S.Pd., M.Pd. Presentasi yang komunikatif dan interaktif menjadi salah satu kekuatan penampilannya dalam menarik perhatian audiens.
Perolehan tiga penghargaan sekaligus tentu menjadi catatan positif bagi SMAN 1 Kota Tasikmalaya. Namun, prestasi tersebut semestinya tidak hanya berhenti sebagai angka dalam daftar piala atau seremoni penghargaan.
Justru di sinilah tantangan berikutnya. Budaya riset di lingkungan sekolah perlu dibuktikan melalui proses yang berkelanjutan: bagaimana siswa dibiasakan membaca persoalan di sekitarnya, menguji data, mempertanyakan informasi, menyusun argumentasi berdasarkan bukti, hingga menghasilkan penelitian yang dapat memberikan manfaat nyata.
Sebab, kemenangan dalam satu kompetisi belum otomatis menggambarkan bahwa budaya penelitian telah mengakar secara menyeluruh di lingkungan sekolah. Prestasi individu dan tim memang patut diapresiasi, tetapi keberlanjutan pembinaan, pemerataan kesempatan mengikuti riset, kualitas pendampingan guru, serta ruang bagi siswa untuk bereksperimen juga menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Di sisi lain, kompetisi KTI memberikan ruang bagi peserta untuk menguji kemampuan akademik sekaligus keberanian mempertahankan gagasan di hadapan dewan juri. Bagi peserta yang belum memperoleh penghargaan, pengalaman penelitian, penyusunan karya, latihan presentasi dan proses evaluasi tetap merupakan bagian dari pembelajaran.
Karena itu, capaian tiga penghargaan SMAN 1 Kota Tasikmalaya dapat ditempatkan bukan sebagai garis akhir, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat tradisi literasi dan penelitian.
Sekolah, guru pembimbing dan para siswa kini memiliki pekerjaan lanjutan, memastikan karya ilmiah tidak hanya bagus ketika diperlombakan, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata dan menghasilkan gagasan yang dapat diuji serta dikembangkan.
Prestasi telah diraih. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar semangat meneliti, berpikir kritis dan berinovasi tidak ikut berhenti ketika piala dibawa pulang.
(Red**)






