BANDUNG, || Sentra industri alas kaki Cibaduyut, Kota Bandung, terus menunjukkan geliat transformasi melalui lahirnya berbagai jenama lokal yang mengusung desain modern dan berorientasi pada pasar yang lebih luas. Salah satunya Vinedrip Masterpiece, brand sepatu lokal yang mengombinasikan kualitas produk buatan pengrajin Cibaduyut dengan konsep pemasaran yang menyasar generasi muda.
Berbekal pengalaman selama enam tahun sebagai vendor produksi alas kaki, Vinedrip Masterpiece mulai membangun identitas mereknya sendiri dalam dua tahun terakhir. Brand ini menghadirkan sepatu bergaya kasual, minimalis, dan uniseks yang mengikuti tren fesyen sekaligus tetap mengedepankan kualitas material dan proses produksi.

Founder Vinedrip Masterpiece, Kharel Sably Khosy, mengatakan pihaknya ingin membuktikan bahwa produk buatan Cibaduyut mampu bersaing dengan merek luar, baik dari sisi desain, kualitas, maupun pengalaman berbelanja.
“Kami ingin menunjukkan kalau Cibaduyut memiliki potensi besar. Produk dari sini dibuat oleh pengrajin berpengalaman dan mampu tampil modern, berkualitas, serta bersaing dengan brand luar,” ujarnya.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, Vinedrip Masterpiece membagi produknya ke dalam dua segmen. Lini reguler dipasarkan melalui berbagai marketplace dengan harga yang lebih terjangkau, sedangkan lini premium Vinedrip Lab dipasarkan melalui situs resmi dengan menyasar konsumen nasional hingga internasional yang menginginkan produk eksklusif berbahan premium.
Selain menawarkan desain sederhana namun tetap stylish, perusahaan juga menyiapkan konsep experience store yang dijadwalkan dibuka pada Agustus mendatang di M-Square Cibaduyut. Konsep tersebut memungkinkan pengunjung tidak hanya membeli produk, tetapi juga menyaksikan secara langsung proses pembuatan sepatu handmade, mencoba layanan pembuatan sepatu custom, hingga menikmati berbagai fasilitas interaktif.
Menurut Kharel, konsep tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah citra Cibaduyut menjadi kawasan industri kreatif yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan keahlian para pengrajin lokal.
“Kami ingin masyarakat datang ke Cibaduyut bukan hanya untuk membeli sepatu, tetapi juga merasakan pengalaman melihat proses pembuatannya langsung. Nilai yang dibawa pulang bukan hanya produknya, tetapi juga pengalaman dan cerita di balik pembuatannya,” katanya.
Di sisi lain, transformasi industri alas kaki lokal juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Persaingan dengan produk impor, perubahan tren fesyen yang cepat, serta tuntutan pemasaran digital menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi pelaku industri agar tetap kompetitif.
Meski demikian, kehadiran brand seperti Vinedrip Masterpiece dinilai menjadi salah satu indikator bahwa industri alas kaki Cibaduyut terus beradaptasi dengan perkembangan pasar. Dukungan inovasi, kualitas produk, serta kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat posisi Cibaduyut sebagai ikon industri sepatu lokal yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga mampu menembus pasar internasional.
(Dewi)






