FPK Tasikmalaya Turun ke Pesantren, Gaungkan Toleransi di Tengah Generasi Muda

SERGAP.CO.ID

KOTA TASIKMALAYA, || Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Tasikmalaya menggelar kegiatan bakti sosial dan sosialisasi toleransi antar etnis di SMPIT Alkuhaji, Sabtu (25/4/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan Pesantren Daul Mutaqin yang berada di bawah naungan Yayasan Aitam Al Mutaqin, Pamijahan.

Agenda ini turut didukung oleh mitra swasta, yakni Kopi TOP dan Mie Sedap, sebagai bagian dari kolaborasi sosial kemasyarakatan.

Kegiatan bertujuan mempererat tali silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pelajar, tentang pentingnya pembauran kebangsaan.

FPK merupakan forum yang dibentuk di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan mandat menjaga harmoni antar etnis di daerah.

Ketua FPK Kota Tasikmalaya, Syahrial, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan keberadaan FPK kepada masyarakat luas.

Ia menegaskan, sosialisasi pembauran perlu terus dilakukan agar nilai toleransi semakin mengakar di tengah masyarakat.

“Dengan kegiatan ini, kami ingin masyarakat mengetahui peran FPK dalam menjaga keharmonisan antar etnis,” ujarnya.

SMPIT Alkuhaji yang menjadi lokasi kegiatan beralamat di Jalan Jati Pamijahan, Kampung Pamijahan RT 02 RW 07, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Kegiatan diikuti oleh para siswa dan masyarakat setempat yang tampak antusias mengikuti rangkaian acara edukatif dan interaktif.

Guru SMPIT Alkuhaji, Acep Akin, S.Pd., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini memberikan nilai tambah bagi siswa dalam memahami pentingnya hidup berdampingan secara harmonis.

Apresiasi serupa juga disampaikan oleh pihak Yayasan Al Muttaqin atas kunjungan FPK ke lingkungan sekolah.

Perwakilan yayasan, Asep Asin, mengatakan bahwa kehadiran FPK disambut positif oleh para siswa.

“Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias. Materi tentang pembauran sangat bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa lingkungan sekolah telah mencerminkan keberagaman, salah satunya dengan adanya siswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurutnya, siswa tersebut telah berbaur dengan baik selama tiga tahun bersama siswa lainnya yang mayoritas bersuku Sunda.

Hal ini dinilai menjadi contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh sejak dini di lingkungan pendidikan.

Asep berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut untuk mempererat hubungan antara FPK dan pihak sekolah.

Sementara itu, salah satu santri, Silva (14), mengaku senang dan terbantu dengan adanya kegiatan tersebut.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat dirinya lebih memahami tentang Forum Pembauran Kebangsaan yang terdiri dari berbagai etnis serta pentingnya menjaga persatuan.

 

(Rzl)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *