TPS Over Kapasitas dan Sampah Masuk Sungai, Aktivis PMII Kritik Pengelolaan Sampah Tasikmalaya

Caption : Pengurus Cabang Pmii Kota Tasikmalaya Dina Diana Ginanjar

SERGAP.CO.ID

KOTA TASIKMALAYA, || Persoalan pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas. Kondisi ini semakin terasa pada momentum Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri ketika aktivitas masyarakat meningkat signifikan.

Bacaan Lainnya

Lonjakan aktivitas tersebut berdampak langsung pada meningkatnya volume sampah yang dihasilkan masyarakat. Berdasarkan perkiraan, produksi sampah di Kota Tasikmalaya dapat mencapai sekitar 240 ton per hari selama periode tersebut.

Tumpukan sampah yang meluber terlihat di sejumlah TPS di berbagai wilayah kota. Kondisi ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap yang dikeluhkan warga sekitar. Sabtu 14/3/2026.

Kota Tasikmalaya sendiri merupakan salah satu kota strategis di wilayah Priangan Timur dengan luas wilayah sekitar 183 kilometer persegi dan jumlah penduduk mencapai sekitar 741.760 jiwa.

Sebagai pusat aktivitas ekonomi, perdagangan, dan jasa di kawasan tersebut, mobilitas masyarakat di Kota Tasikmalaya tergolong tinggi sehingga secara langsung memengaruhi peningkatan volume sampah setiap harinya.

Di tengah perkembangan kota yang terus meningkat, Pemerintah Kota Tasikmalaya sebenarnya telah memiliki program prioritas bertajuk “Tasik Nyaman” dan “Tasik Resik.”

Kedua program tersebut bertujuan menciptakan lingkungan kota yang bersih, tertata, serta memberikan kenyamanan bagi masyarakat maupun para pengunjung yang datang ke Kota Tasikmalaya.

Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan serius, khususnya dalam aspek pengelolaan sampah.

Hal tersebut disampaikan Dina Diana Ginanjar, pengurus Cabang PMII Kota Tasikmalaya, kepada media ini, yang menilai bahwa persoalan sampah hingga saat ini belum tertangani secara optimal.

Menurutnya, salah satu masalah yang cukup memprihatinkan adalah keberadaan beberapa TPS yang berada di kawasan sepadan sungai, yang seharusnya menjadi area steril dari aktivitas yang berpotensi mencemari lingkungan.

Dina mengungkapkan bahwa dari hasil pengamatan di lapangan, TPS yang telah penuh sering kali menyebabkan sampah meluber hingga jatuh ke aliran sungai di sekitarnya.

Kondisi tersebut semakin diperparah ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, karena sampah yang menumpuk dengan mudah terbawa arus air dan menyebar di sepanjang aliran sungai.

Fenomena tersebut dinilai sangat memprihatinkan karena tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan sedimentasi di daerah aliran sungai.

Dalam jangka panjang, sedimentasi tersebut dapat mengurangi kapasitas aliran air dan meningkatkan potensi terjadinya banjir di kawasan perkotaan.

Dina menegaskan bahwa program “Tasik Nyaman” dan “Tasik Resik” seharusnya tidak hanya menjadi slogan, melainkan diwujudkan melalui langkah nyata yang terukur dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk segera mengambil langkah strategis, termasuk menertibkan TPS yang berada di kawasan sepadan sungai serta mencari alternatif lokasi yang lebih aman bagi lingkungan.

Selain itu, penguatan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh dinilai menjadi langkah penting, mulai dari pengurangan sampah dari sumbernya, pengembangan bank sampah, hingga peningkatan kapasitas pengangkutan dan pengolahan sampah agar persoalan lingkungan di Kota Tasikmalaya dapat tertangani secara lebih efektif.

(R**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *