KAB. KARAWANG, || Kondisi memprihatinkan gedung SMAN 5 Karawang kembali jadi sorotan publik setelah plafon bagian depan bangunan sekolah itu rusak. Ironisnya, pihak sekolah mengaku tak bisa bergerak cepat memperbaiki karena alasan klasik: keterbatasan anggaran.
“Setiap ada kerusakan, kami tidak bisa langsung memperbaiki. Harus diprioritaskan sesuai kebutuhan. Kemarin saja kami baru mengganti pintu di tujuh ruang kelas dengan aluminium, setelah itu dana kembali menipis,” kata Adam, Wakil Kepala SMAN 5 Karawang bidang Sarana dan Prasarana, Rabu (24/9/2025).
Sekolah, lanjutnya, hanya mengandalkan dana BOS tanpa sokongan anggaran lain. Padahal, beban semakin berat setelah Dinas Pendidikan Provinsi menambah jumlah siswa. Imbasnya, anggaran lebih banyak tersedot untuk pembelian meja dan kursi baru ketimbang memperbaiki gedung yang rusak.
Beberapa kerusakan ringan seperti cat dinding mengelupas pun terpaksa dibiarkan. “Kami selalu berusaha mendahulukan ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. Tapi memang tidak bisa semuanya langsung tertangani sekaligus,” ujarnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik: sampai kapan keselamatan siswa dikesampingkan hanya karena keterbatasan anggaran? Di satu sisi, sekolah dituntut menampung lebih banyak murid, tapi di sisi lain fasilitas dasar justru terabaikan.
Adam menutup dengan apresiasi pada kepedulian masyarakat. Namun publik menilai, ucapan terima kasih saja tak cukup—pemerintah daerah dan provinsi harus turun tangan sebelum kerusakan kecil berubah menjadi bencana besar di dunia pendidikan.
(Liputan : Ahmad Z)






