KUPANG, || RW. 04 Kelurahan Nunleu, Kecamatan Kota Raja, tak main-main ketika memilih budaya Rote sebagai tema besar pentas seni tahun ini. Dua hari penuh pertunjukan, lomba, dan pasar rakyat siap mengguncang kampung, sekaligus menegaskan identitas kultural warga setempat.
Lurah Nunleu, Jonetha Pello, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya ajang seremonial tahunan, melainkan bentuk konkret menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal luas, bahkan hingga mancanegara.
“Fokus kami adalah pelestarian budaya. Kami ingin budaya Rote tak hanya eksis di NTT, tapi juga bisa dikenal di luar negeri,” ungkap Jonetha.
Ia menyebut kegiatan ini akan dikemas dalam bentuk pentas seni budaya selama dua hari, dengan berbagai hiburan, lomba, dan sajian budaya yang dikurasi secara menarik.
Untuk menyukseskan kegiatan ini, pihaknya segera membentuk panitia, melibatkan warga setempat, tokoh masyarakat, serta unsur kelurahan. Semuanya digerakkan bersama.
“Kami akan bentuk tim khusus untuk menyusun agenda, koordinasi dengan OPD, dan tentu membagi peran agar persiapan matang,” lanjutnya.
Jonetha menambahkan, pemilihan etnis Rote sebagai tema bukan tanpa alasan. Hasil diskusi bersama warga menunjukkan bahwa mayoritas penduduk RW 04 berasal dari suku Rote.
“Ini kekayaan lokal yang harus diangkat. Identitas warga kami ya budaya Rote. Maka dari itu, ini kami jadikan tema utama,” ujarnya.
Acara ini akan diisi dengan berbagai kegiatan menarik, mulai dari tarian daerah, lomba tari Foti yang khas Rote, hingga fashion show anak-anak dan remaja dengan busana tradisional Flobamora.
“Tahun lalu ada lomba vokal grup dan fashion show Flobamora. Tahun ini kita segarkan lagi dengan fashion show anak-anak, remaja, lomba tari Foti, dan pentas tarian daerah,” jelas Jonetha.
Sekretaris Kelurahan Nunleu, Ade Ndoen, mengungkapkan bahwa koordinasi dengan Dinas Pariwisata sedang berlangsung untuk mengatur jadwal resmi acara. Selain itu, persiapan teknis seperti dekorasi dan penyambutan tamu sudah mulai dibahas.
“Kami sedang petakan semua kebutuhan teknis agar pelaksanaannya maksimal. Ini agenda penting bagi masyarakat Nunleu,” tutur Ade.
Sementara itu, Ketua RW 04, Semuel Haning, menyatakan komitmennya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai momentum istimewa bagi wilayahnya. Ia bahkan menyebut akan tampil “lebih dari angka lima”.
“Pokoknya Top Markotop! Saya siap total. Target saya bukan sekadar bagus, tapi yang terbaik untuk RW 04,” tegas Haning dengan penuh semangat.
Bagi Haning, kepercayaan untuk memimpin kegiatan ini adalah kehormatan tersendiri. Ia bertekad menjadikan RW 04 sebagai pusat budaya di Kota Kupang.
“Saya akan jadikan RW kami sebagai ruang ekspresi warga dan ruang hidup budaya. Ini lebih dari acara, ini pergerakan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mendukung UMKM lokal dalam kegiatan ini. Menurutnya, pentas budaya bisa bersinergi dengan geliat ekonomi masyarakat.
“Kami buat konsep pasar malam mini. UMKM warga akan tampil, menjual produk makanan, kerajinan, dan lainnya,” terang Haning.
Event ini juga direncanakan akan dibuka oleh Wali Kota Kupang, dan turut dihadiri anggota DPRD sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata lokal.
Menurut Haning kegiatan ini bukan semata-mata hiburan, tapi bisa menjadi bahan pijakan untuk membuat kalender budaya tahunan di Kota Kupang.
“Kami ingin kegiatan ini berlanjut tiap tahun dan masuk dalam agenda resmi kota. Supaya warga makin cinta budaya sendiri,” tambah Ketua Rw.04 Nunleu 30 tahun ini.
Haning mengajak seluruh warga Nunleu, terutama RW 04, untuk ikut serta dalam lomba maupun kegiatan lain. Ia membuka ruang partisipasi seluas-luasnya.
“Saya yakin banyak bakat di RW ini. Ayo tampil, ekspresikan diri, dan bangkitkan semangat Flobamora di hati kita semua,” tutupnya.
(Desy)






