KOTA BANDUNG, || PT Migas Utama Jabar (MUJ) bersama PT Asian Clean Energy resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pemanfaatan flare gas menjadi energi listrik (gas to power) dalam upaya mempercepat transisi energi bersih di Jawa Barat. Penandatanganan berlangsung di Kantor MUJ, Jalan Jakarta No. 40, Bandung, Rabu (16/7).
Kerja sama ini menandai langkah strategis dalam mengubah gas buang dari aktivitas produksi migas yang selama ini terbuang menjadi sumber energi listrik yang efisien dan ramah lingkungan. Proyek ini juga diharapkan mampu menekan emisi karbon dan mendorong pengurangan ketergantungan pada energi fosil.
Direktur Utama MUJ, Muhamad Sani, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan implementasi nyata visi perusahaan sebagai holding BUMD energi yang memimpin transisi energi di Indonesia.
“Kami menandatangani kesepakatan untuk pemanfaatan gas bumi, termasuk gas buang, untuk pembangkit listrik atau gas to power. Ini adalah bagian dari komitmen kami terhadap efisiensi dan energi bersih,” ujar Sani.
Lebih lanjut, Sani menambahkan bahwa proyek ini sejalan dengan target Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjadikan wilayahnya sebagai pionir dalam pengembangan energi terbarukan, termasuk biomassa dan hidrogen.
Sementara itu, Direktur Utama PT Asian Clean Energy, Robin Hendera, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini membuka peluang besar dalam mengolah gas buang menjadi sumber energi baru yang bermanfaat.
“Flare gas yang selama ini tidak dimanfaatkan bisa diubah menjadi listrik. Ini selaras dengan visi kami dalam menciptakan teknologi ramah lingkungan dan menciptakan nilai dari sumber daya yang terbuang,” ujarnya.
Robin juga menyebut, kerja sama ini bukan hanya berhenti pada proyek gas to power, tetapi akan diperluas ke inisiatif lain seperti pemanfaatan biomassa dan pengembangan hidrogen sebagai energi masa depan.
Sebagai tindak lanjut, MUJ akan memulai proyek percontohan di kawasan Pabuaran, Jawa Barat, dengan memanfaatkan flare gas dari lapangan migas yang ada. Selain itu, MUJ juga menjajaki kerja sama dengan Pertamina EP Region 2 untuk optimalisasi gas buang di wilayah operasional mereka.
“Semoga flare gas yang selama ini dibuang bisa kita manfaatkan bersama Pertamina di wilayah Jawa Barat,” kata Sani.
Proyek ini diharapkan memberi dampak jangka panjang, baik secara lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Pemanfaatan flare gas diprediksi akan menyediakan pasokan listrik ke kawasan industri serta wilayah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik nasional.
Sani menambahkan bahwa kerja sama ini juga berpotensi membuka lapangan kerja, mengundang investasi, dan mempercepat inovasi teknologi energi bersih berbasis potensi lokal.
Penandatanganan MoU ini sekaligus menjadi simbol komitmen bersama antara pelaku industri dan pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem energi berkelanjutan. Melalui sinergi lintas sektor, Jawa Barat diharapkan bisa menjadi provinsi percontohan dalam transformasi menuju energi hijau di tingkat nasional.
(Dewy)






