KOTA TASIKMALAYA, || Ikatan Keluarga Minang Tasikmalaya (IKMT) kembali menunjukkan soliditas dan kepedulian sosial yang tinggi dengan menghadiri acara tahlilan hari ke-7 almarhumah Indra Meri binti Djamalis, yang wafat pada Minggu, 6 Juli 2025 karena sakit. Acara berlangsung di rumah duka tepatnya di Perum Shanrilla, Blok A20 No.14, Jl. Peta, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, atas undangan dari putrinya, Ibu Resi Pratiwi, S.E., M.Si, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi.
Tahlilan dipimpin secara khidmat oleh Buya Ismed Piliang dan dihadiri langsung oleh Ketua IKMT, Syahrial Koto, didampingi sang istri, serta jajaran pengurus IKMT, Wakil ketua, Kabid Organisasi, Humas, Kabid Kewanitaan, Kabid Rohis Islam, ketua Bundo Kanduang, anggota Bazis, dan masyarakat Minang lainnya yang berdomisili di Tasikmalaya.
Selain sebagai ajang doa dan penghormatan bagi almarhumah, tahlilan ini juga menjadi simbol nyata kekompakan dan kepedulian warga Minang di tanah rantau.
Kalau ada yang berpesta, kita datang. Kalau ada yang tahlilan, kita pun hadir. Ini bentuk perhatian dan solidaritas kita sesama dunsanak. Budaya badunsanak ini harus terus kita jaga. ” Ujar Syahrial Koto, Ketua IKM Tasikmalaya dalam sambutannya.
Ia juga mengajak seluruh warga Minang di Tasikmalaya untuk semakin peka dan peduli terhadap sesama, terutama ketika ada dunsanak yang sedang tertimpa musibah.
Menariknya, dalam kesempatan itu juga dibahas perkembangan pembangunan Masjid IKMT. Siteplan yang telah disepakati dalam Rapat Akbar sebelumnya telah selesai disusun, dan akan dijadikan pedoman kerja panitia dalam melaksanakan pembangunan. Pengurus berkomitmen untuk segera menyusun struktur panitia secara lengkap dan menggelar rapat khusus dalam waktu dekat guna mempercepat proses realisasi.
Pembangunan fisik akan segera dimulai setelah seluruh perizinan dan kelengkapan administrasi selesai diproses.
Tahlilan ini bukan hanya acara keagamaan, tetapi juga momentum persatuan, kepekaan sosial, dan penguatan komunitas. Warga Minang di Tasikmalaya kembali membuktikan bahwa semangat berdunsanak dan bergotong royong tetap hidup dan tumbuh, bahkan jauh dari ranah Minang itu sendiri.
(Red)






