Menembus Global: Anindya Bakrie Resmi Luncurkan Produk UMKM NTT di Lamoringga

Menembus Global: Anindya Bakrie Resmi Luncurkan Produk UMKM NTT di Lamoringga
Caption : Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie bersama Ketum Kadin NTT dan Owner Restaurant La Moringga

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Di tengah kelesuan sektor pertanian tradisional, secercah harapan datang dari sehelai daun kecil berwarna hijau. Kelor yang dulu dianggap tanaman pinggir halaman kini menjelma menjadi komoditas emas yang membawa nama Nusa Tenggara Timur (NTT) ke panggung ekspor dunia.

Bacaan Lainnya

Permintaan global terhadap kelor atau Moringa oleifera terus meroket. Di berbagai negara, dari Qatar hingga Australia, produk olahan kelor tak lagi sekadar makanan sehat, melainkan gaya hidup. Inilah yang ditangkap La Moringa, perusahaan asal Kota Kupang, sebagai peluang ekonomi berkelas dunia.

Kegiatan Pelaksanaan Ekspor Global Produk Kelor dan Cokelat UMKM NTT secara resmi diluncurkan di lantai 2 La Moringa, Kota Kupang.

Peresmian dilakukan oleh Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya N. Bakrie, bersama Ketua Umum KADIN NTT Bobby Wilianto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, serta jajaran undangan penting lainnya.

Dr. Andre Hartanto, pemilik La Moringa, menyampaikan kebanggaannya.

“Permintaan dunia terhadap kelor sangat tinggi dan ini menjadi nilai yang sangat bermanfaat untuk kita,” ujarnya.

Tak main-main, perusahaannya telah menembus pasar Qatar, Arab Saudi, Singapura, Australia, dan tengah menjajaki kerja sama dengan Amerika Serikat.

Selama lima kali pengiriman ke luar negeri, La Moringa telah mengantongi pendapatan lebih dari 30 ribu dolar AS. Volume ekspor yang semula hanya muat pesawat kini membutuhkan kontainer penuh. Satu kontainer berisi sekitar 240 karton atau pallet produk siap jual.

Produk-produk andalan La Moringa sangat beragam. Mulai dari biskuit kelor, biskuit sorgum, teh kelor, bubuk kelor, hingga cokelat kelor. Semua dikemas modern dan memenuhi standar ekspor internasional. Namun, tantangan besar mengintai di balik euforia ini: kekurangan pasokan bahan baku.

“Saat ini kami sudah ambil semua dari petani di NTT, namun belum mencukupi kebutuhan. La Moringa membutuhkan satu sampai tiga ton per bulan, sementara pasokan dari petani NTT baru mencapai 300 kilogram per bulan,” jelas Dr. Andre.

Menembus Global: Anindya Bakrie Resmi Luncurkan Produk UMKM NTT di Lamoringga

Kondisi ini membuat La Moringa harus menyuplai sebagian bahan baku dari Pulau Jawa. Sebuah ironi, mengingat NTT dikenal sebagai salah satu wilayah dengan populasi kelor terbesar di Indonesia. Padahal, jika rantai pasok dikelola dengan baik, potensi petani lokal bisa dioptimalkan sepenuhnya.

Upaya mengatasi hal ini mulai dilakukan. Bank Indonesia memfasilitasi kerja sama antara La Moringa dan petani lokal melalui nota kesepahaman (MoU).

“Beberapa petani sudah disaring dan siap memenuhi kebutuhan kami,” kata Andre. Namun ia menekankan pentingnya konsistensi dalam produksi.

“Kami tidak ingin mereka hanya sekali memenuhi kebutuhan. Harapannya, mereka bisa terus konsisten. Saat ini permintaan sangat tinggi, tapi pasokan masih rendah,” tegasnya.

Harga serbuk kelor yang ditawarkan La Moringa cukup kompetitif, yakni antara Rp 65.000 hingga Rp 75.000 per kilogram. Syaratnya hanya satu: bahan baku harus asli dari petani NTT. Ini bentuk komitmen perusahaan dalam membangun ekonomi lokal.

Dengan harga yang menjanjikan dan pasar terbuka lebar, kelor kini menjadi harapan baru bagi kebangkitan ekonomi NTT. Bukan hanya sebagai produk ekspor, tetapi juga sebagai simbol bahwa dari tanah tandus bisa tumbuh daun-daun emas yang menjanjikan masa depan cerah bagi petani.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *