Oleh: Nisa Albayani
Aktivitas: Pelajar
SERGAP.CO.ID
OPINI, || Euporia kemenangan sea games di salah satu cabang olahraga sepakbola terus bergelora di seantero negeri. Para pemain pun disambut bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
Menteri keuangan pun, Sri Mulyani telah menyiapkan anggaran sebesar 852,2 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap kontingen Indonesia pada sea games 2023.
Namun, uang sebesar itu buat apa sih di tengah kondisi rakyat Indonesia yang sedang tidak baik – baik saja?
Berdasarkan informasi yang didapat, anggaran 852,2 miliar rupiah tersebut di bagi lagi menjadi pembinaan atlet sebesar 522 miliar rupiah, untuk bantuan pengiriman kontingen menuju kamboja 55,2 miliar rupiah, kemudian untuk pemberian bonus bagi para peraih medali 275 miliar rupiah.
Keberhasilan Indonesia dalam event olahraga dianggap akan menaikkan posisi Indonesia di mata dunia. Sebagai sarana yang dapat meningkatkan prestise negara di mata dunia.
Padahal seharusnya negara lebih memprioritaskan yg lebih penting dan mendesak untuk di atasi. Seperti kemiskinan ekstrim, stunting, infrastruktur pendidikan yang belum memadai bahkan masih banyak sekolah yang dinilai tak layak untuk kegiatan belajar mengajar.
Kemudian fasilitas kesehatan di daerah terpencil juga masih sangat terbatas dan kurang berkualitas. Kepentingan pendidikan, kesehatan bahkan kemiskinan tidak dijadikan prioritas oleh negara yg menerapkan sistem kapitalisme. Seharusnya penguasa paham akan tanggung jawabnya sebagai pengurus rakyat.
Dengan penggelontoran dana untuk kegiatan olahraga di tengah banyaknya persoalan masyarakat, jelas negara gagal dalam memprioritaskan rakyatnya.
Di negara yang menerapkan sistem kapitalisme, hal yang lebih diutamakan adalah kekuasaan dan materi.
Dan dengan keberadaan sea games itu sendiri, di pandang akan menaikkan posisi Indonesia di mata dunia.
Seperti itulah penguasa yang lahir dari sistem kapitalisme, menghilangkan tanggung jawabnya sebagai pengurus urusan rakyat.
Lain halnya dengan aturan yang lahir dari Islam. Islam bukan hanya mengatur ranah induvidu saja, seperti ibadah, namun Islam pun mengatur seluruh aspek kehidupan, yang dengan aturan tersebut, mampu menghantarkan kepada kesejahteraan dan keberkahan bagi seluruh rakyat. Hal itu karena disandarkan kepada firman Allah SWT yang artinya: ” Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. ( TQS Al Anbiya:107).
Negara yang menerapkan aturan Islam tidak akan membiarkan adanya kemiskinan bahkan stunting. Karena ditopang dengan sistem ekonomi yang bersumber dari Al quran dan As sunnah.
Pendidikan dan kesehatan pun gratis untuk rakyatnya baik itu muslim ataupun non muslim semuanya adil tidak di bedakan.
Penguasa dalam Islam paham akan tanggung jawabnya sebagai pengurus umat. Jika penguasa lalai dalam amanah kepemimpinannya akan ada pertanggung jawaban diakhirat kelak dengan hukuman yang berat.“Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR Bukhari-Muslim).
Itulah sebabnya, umat dan bahkan dunia ini membutuhkan sistem Islam yang jelas menjanjikan kebaikan keberkahan dan keadilan.
Olahraga adalah hal yang dibolehkan dalam Islam, karena sebagai penunjang dalam melakukan ibadah di hadapan Allah.
Namun, fungsi olahraga hari ini telah bergeser dari yang semestinya. Hal yang dikejar bukan hanya sehatnya saja, tapi perlombaan yang akan mendatangkan pundi-pundi rupiah.
Adalah hal yang wajar ketika negara mengapresiasi kemenangan dalam perlombaan dengan adanya pemberian berupa bonus, namun ada hal yang lebih penting yang tidak kalah diperhatikan.
Yaitu, terpenuhinya seluruh kebutuhan dasar bagi seluruh rakyatnya.
Bukankah seorang penguasa dipilih rakyat itu untuk mengurusi urusan-urusan mereka?
Wallahu’alam bi ash shawwab
Oleh: Nisa Albayani
Aktivitas: Pelajar






