KAB. BIMA || Pertemuan Lintas Sektor dan Technical Working Group (TWG) Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima bersama lembaga mitra yang difasilitasi oleh Fred Hollows Foundation (FHF) Indonesia melalui Program Comprehensive Eye Care (CCEC) NTB Tahap II (2026–2029), Pada Selasa 3 November 2026 di Illocake Restoran, Jalan Soekarno Hatta Kota Bima, membahas sejumlah hal penting terkait dukungan penanggulangan katarak dan gangguan penglihatan bagi masyarakat Kabupaten Bima secara berkelanjutan.
Kepala Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Hartawan, S.Sos., SKM., MM., dalam keterangannya mengungkapkan bahwa pertemuan dan penandatanganan kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen tahap sebelumnya.
Ia mengapresiasi posisi NTB sebagai teladan nasional dalam pelaksanaan operasi katarak karena menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki blue print (cetak biru) operasi katarak serta modul khusus yang kini dapat diadopsi secara nasional.
“Kerja sama lintas sektor ini sangat krusial untuk mengurangi beban gangguan penglihatan di Kabupaten Bima. Melalui program CCEC Tahap II ini, kita tidak hanya memperluas akses layanan, tetapi juga memastikan keberlanjutan sistem kesehatan mata yang terstandar,” ujar Hartawan.
Dalam kerangka sinergi lintas sektor ini, program komprehensif tersebut diharapkan mampu menekan angka kebutaan yang dapat dicegah, menjaga produktivitas warga, serta mendeteksi dini berbagai komplikasi penglihatan sejak dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat ini, Pemkab Bima dan Dikes NTB optimis target penurunan prevalensi kebutaan dapat tercapai secara optimal, sekaligus menghadirkan pelayanan kesehatan mata yang inklusif dan merata,’. jelasnya.
Koordinator Program CCEC NTB Heru memaparkan empat komponen utama proyek yang difokuskan pada pelayanan massal.
“Program CCEC NTB berfokus pada empat pilar utama untuk meningkatkan kesehatan penglihatan masyarakat secara menyeluruh. Fokus tersebut meliputi penanggulangan katarak dan pterygium melalui skrining serta operasi massal bagi kelompok produktif dan lansia.
Kegiatan lainnya adalah pemeriksaan visus dan distribusi kacamata gratis bagi siswa sekolah untuk mendukung proses belajar, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan fasilitas di puskesmas maupun rumah sakit, serta uji coba skrining retinopati diabetik bagi penyandang diabetes.
Langkah intervensi tersebut meliputi skrining dan operasi katarak/pterygium bagi warga lansia dan usia produktif, pembagian kacamata gratis bagi siswa (SD, SMP, MI, MTs), pelatihan klinis nakes serta pemenuhan alat medis mata di fasyankes, hingga uji coba skrining retinopati diabetik bagi penderita diabetes melitus.
Heru, menegaskan penanggulangan gangguan penglihatan ini sangat strategis, mengingat NTB menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki blue print serta modul operasi katarak terstandar nasional untuk menekan tingkat kebutaan di masyarakat.
Pertemuan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama untuk mendukung penanggulangan Katarak dan gangguan penglihatan mata.
(Man)






