KAB. SUMBA TIMUR, || Ratusan petani dan warga di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, kini membayangkan ancaman krisis air yang kian membendung. Embung Oetalu Naioni yang selama ini menjadi penopang utama irigasi pertanian serta kebutuhan domestik warga, dalam kondisi rusak parah dan hampir mengering. Tanpa penanganan segera dari pemerintah, hasil pertanian warga terancam gagal panen total.
Kondisi kritis ini dialami oleh para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Familly serta pemilik kebun perseorangan, seperti Dominggus Anin, di RT 019/RW 009 Kelurahan Naioni. Di kawasan ini, lahan pertanian produktif yang ditanami melon, tomat, cabai, dan timun kini terancam matang sebelum waktunya atau bahkan mati mendadak karena kehabisan pasokan air irigasi.
”Kondisi embung sudah rusak sejak dilanda Badai Seroja dan sampai sekarang belum ada perbaikan yang terealisasi. Pasokan air makin berkurang drastis dan embung hampir kering. Jika tidak segera diperbaiki, kami dipastikan gagal panen total,” ujar Dominggus saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).
erdasarkan pantauan di lokasi, debit air di Embung Oetalu Naioni telah menyusut drastis. Retakan-retakan tanah di dasar embung terlihat mengering mengelupas akibat tiadanya suplai air yang memadai. Sementara itu, bedeng-bedeng tanaman melon dan hortikultura milik petani hanya bergantung pada sisa-sisa air irigasi yang kian terbatas.
Menopang Kebutuhan Empat RT
Keberadaan Embung Oetalu Naioni tidak hanya krusial bagi sektor pertanian semata. Air dari embung ini dimanfaatkan secara bersama oleh warga di empat wilayah rukun tetangga (RT), yakni RT 017, RT 018, RT 019, dan RT 020.
Selain untuk mengairi perkebunan hortikultura dan pekarangan rumah, warga setempat bergantung pada air embung untuk kebutuhan harian, seperti mencuci pakaian dan memberi minum ternak peliharaan. Bahkan, minimnya akses air bersih turut berdampak pada kehidupan anak-anak sekolah di wilayah tersebut yang kerap kesulitan mendapatkan air bersih untuk bersiap di pagi hari.
Warga mengaku pernah dikunjungi oleh dinas terkait untuk pengukuran lapangan, namun tindak lanjut dari pengukuran tersebut belum terwujud.
”Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bidang Pengairan Provinsi NTT sudah pernah datang melihat dan mengukur lokasi. Katanya janji penanganan atau renovasi dilakukan sekitar bulan Oktober, tetapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda pengerjaan,” tambah Dominggus.
Para petani dan masyarakat Kelurahan Naioni sangat berharap Pemerintah Kota Kupang maupun Pemerintah Provinsi NTT segera mengambil langkah konkrit untuk melakukan renovasi dan pengerukan Embung Oetalu Naioni. Perbaikan fasilitas penampung air ini sangat mendesak demi menyelamatkan perekonomian warga serta menjaga ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih di kawasan selatan Kota Kupang tersebut.
(Ms)






