Manisnya Iman Justru Ditemukan Saat Sakit dan Musibah

Caption: Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd Sekretaris PCNU Subulussalam, foto dokumen Ist.

SERGAP.CO.ID

SUBULUSSALAM, || Manisnya iman sering kali tidak ditemukan saat hidup lapang. Ia justru hadir ketika tubuh sakit dan keadaan tidak lagi berpihak. Informasi tersebut disampaikan Sekretaris PCNU Kota Subulussalam, Tgk. Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, di saat lapang iman terasa mudah. Doa lancar, ibadah teratur, dan keyakinan seolah tidak tergoyahkan. Namun rasa yang sesungguhnya jarang diuji di tempat yang nyaman.

“Manis yang sesungguhnya jarang diuji di tempat yang nyaman. Ia baru terasa ketika keadaan tidak lagi berpihak dan hati tetap memilih untuk tidak memberontak kepada Allah,” ujar Agustari.

Ia menjelaskan, musibah dan sakit menyingkap ke mana hati manusia sebenarnya bersandar. Orang bisa mengaku bertawakal selama belum kehilangan. Begitu tubuh melemah atau hidup retak, yang muncul bisa jadi panik dan prasangka bahwa Tuhan jauh.

“Di titik itu iman tidak lagi menjadi kalimat. Ia menjadi pilihan: apakah tetap percaya di tengah yang tidak dimengerti, atau hanya percaya ketika semuanya berjalan sesuai keinginan,” katanya.

Sabar dan Ridha sebagai Pintu

Agustari menegaskan, pintu menuju manisnya iman itu adalah sabar dan ridha.

Sabar bukan berarti tidak boleh terluka. Sabar adalah kemampuan menahan diri dari putus asa dan dari keluhan yang merusak hubungan dengan Allah. Jika sabar adalah menahan, ridha adalah menerima — meyakini bahwa di balik yang pahit tetap ada kebijaksanaan Allah yang tidak selalu langsung terbaca.

“Keduanya tidak meniadakan rasa sakit. Orang tetap boleh terluka. Yang diminta adalah tidak membiarkan luka itu mendorongnya menjauh dari Tuhan,” ujarnya.

Allah SWT berfirman:

> وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

> الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”. (QS. Al-Baqarah: 156)

Menurut Agustari, manisnya iman yang lahir dari sabar dan ridha berbeda dengan manisnya formalitas. Ia tidak selalu berupa kelegaan yang instan. Lebih sering berupa ketenangan yang pelan: dada tidak hancur sepenuhnya, doa tidak putus, dan harapan tidak mati meski keadaan sedang turun.

Rasulullah SAW bersabda:

> ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Telah merasakan manisnya keimanan, orang yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasul-Nya.” (HR. Muslim)

> مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Karena itu, musibah dan sakit bukan sekadar hukuman. Ia bisa menjadi tempat iman dibuktikan dan dirasakan ulang. Manis itu tidak datang dari hilangnya rasa sakit semata, melainkan dari keyakinan yang tetap berdiri meski sakit itu datang,” tutupnya.

(Dhar).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *