KUPANG, || Flobamora Creative Expo (FCE) 2026 tak hanya menjadi panggung bagi pelaku UMKM Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memasarkan produk lokal. Di balik gelaran ekonomi kreatif tersebut, terselip misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa Flores.
Bank Indonesia Provinsi NTT (BI NTT) memastikan sebagian hasil penjualan produk UMKM selama FCE 2026 akan didonasikan kepada korban gempa Flores.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan aktivitas ekonomi sekaligus memiliki dampak sosial bagi masyarakat.
Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, mengatakan salah satu bentuk dukungan tersebut berasal dari penjualan kain tenun yang dilakukan kelompok pengrajin. Hasil penjualan itu akan disalurkan bagi masyarakat yang terdampak bencana gempa.
“Sebagian hasil penjualan produk UMKM pada kegiatan tersebut akan didonasikan untuk korban gempa Flores,” kata Adidoyo saat kegiatan Sasando Dia (Sante-Sante Duduk baOmong Deng Media) di Subasuka Paradise Kupang, Selasa (22/9/2026).
FCE 2026 sendiri akan berlangsung selama tiga hari, 2–4 Oktober 2026, di Pelataran Lippo Plaza Kupang. Sebanyak 53 UMKM dari berbagai sektor akan ambil bagian, mulai dari tenun ikat, kopi, kelor, kuliner lokal hingga produk kelautan.
Tak hanya pameran, rangkaian kegiatan juga diisi talkshow, masterclass dan kompetisi inovasi produk kreatif. Salah satu produk yang menjadi sorotan adalah es krim berbahan kulit pisang dari Belu yang sebelumnya meraih penghargaan tingkat Asia Pasifik.
Melalui FCE 2026, BI NTT ingin memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak hanya berbicara mengenai peningkatan omzet dan perluasan pasar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gerakan sosial dan kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
“Kami ingin UMKM NTT tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional. Karena itu, UMKM kita harus naik kelas,” ujar Adidoyo.
FCE 2026 merupakan hasil rebranding dari Exotic Tenun Fest yang sebelumnya berfokus pada promosi dan pengembangan kain tenun NTT. Dengan perubahan konsep tersebut, ruang promosi diperluas untuk mencakup berbagai potensi ekonomi kreatif di NTT.
(Desy)






