Secangkir Kopi, Ruang Kesetaraan: Catatan Wartawan Dua Era di Mapolres Nagan Raya

Caption : Gambar: Kapolres Nagan Raya AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., ngopi bareng wartawan senior dua era Muhammad Hasanuddin bersama sejumlah insan pers di Kantin Mapolres Nagan Raya, Senin (22/9/2026). Foto: Dok. Ist.

SERGAP.CO.ID

KAB. NAGAN RAYA, || Suasana Kantin Mapolres Nagan Raya, Senin (21/9/2026) sore, tampak berbeda. Usai apel dan laporan resmi, aroma kopi hitam yang mengepul, tawa ringan, dan obrolan hangat justru mengisi ruang antara Kapolres Nagan Raya AKBP Muhammad Taufiq, S.I.K., M.H., dengan sejumlah insan pers.

Bacaan Lainnya

Pertemuan yang dikemas dalam agenda ngopi bareng itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah ikhtiar untuk merawat silaturahmi dan memperkuat sinergi kemitraan antara Polri dan pers dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Turut hadir wartawan senior dua era, Muhammad Hasanuddin. Kiprahnya bukan baru kemarin. Ia telah melintasi dua zaman, Orde Baru hingga Reformasi, dari masa konflik bersenjata di Aceh hingga damai yang panjang, bahkan menjadi saksi hidup perjalanan Nagan Raya sejak masih menjadi bagian dari kabupaten induk Aceh Barat hingga resmi menjadi kabupaten definitif pada 2002.

Di tengah suasana santai itulah, Kapolres dan awak media saling bertukar informasi serta pandangan mengenai dinamika Kamtibmas terkini.

Pada kesempatan tersebut, Kapolres menegaskan peran pers sangat vital sebagai jembatan informasi antara negara dan masyarakat. “Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap hubungan silaturahmi dan komunikasi antara Polres Nagan Raya dengan rekan-rekan media semakin erat. Sinergi yang baik sangat dibutuhkan dalam menyampaikan informasi yang edukatif dan bermanfaat kepada masyarakat,” ujar AKBP Muhammad Taufiq.

Sinergi yang dimaksud Kapolres, kemudian dimaknai lebih dalam oleh Hasanuddin. Bagi dia, makna ngopi bareng jauh melampaui aktivitas minum kopi itu sendiri. “Di hadapan kopi, semua setara. Kopi tidak memilih harus diminum oleh siapa,” ujar Hasanuddin kepada SERGAP.CO.ID. “Di situ, jabatan dan profesi dilebur menjadi percakapan yang jujur.” tambah Hasanuddin.

Dari kesetaraan itu, ia menarik makna kedua: keseimbangan. “Bagi saya, kopi mengajarkan tentang keseimbangan. Pahit dan manis bisa berpadu pas jika diseduh dengan takaran yang tepat, seperti hidup dan kerja-kerja jurnalistik yang perlu dijaga keseimbangannya,” tuturnya.

Menurut Hasanuddin, filosofi kopi sangat relevan dengan kerja kemitraan. Kopi mengajarkan kejujuran, keseimbangan, dan yang terpenting ketenangan.. “Secangkir kopi hangat memaksa kita untuk berhenti sejenak, menikmati waktu pelan-pelan, dan bersabar. Bahwa hidup tidak selalu manis, tetapi selalu punya sisi yang bisa diterima dengan lapang dada,” pungkasnya.

Ngopi bareng sore itu pun tidak berakhir pada tegukan terakhir. Ia meninggalkan komitmen yang mengental: bahwa di atas meja kopi yang sederhana, kemitraan Polri dan pers di Nagan Raya dirajut semakin solid, matang, dan berorientasi pada kepentingan publik.

(Dh@r)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *