KUPANG, || PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) memperkuat strategi memperluas inklusi keuangan di Nusa Tenggara Timur melalui edukasi perbankan kepada masyarakat. Bank NTT menilai literasi keuangan menjadi fondasi penting agar masyarakat mampu memilih produk perbankan, mengelola keuangan, hingga memanfaatkan pembiayaan secara produktif.
Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius Geong, mengatakan sosialisasi literasi dan inklusi keuangan yang digelar dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi salah satu momentum bagi perseroan untuk memperkenalkan berbagai produk dan layanan perbankan kepada masyarakat.
Kegiatan yang dihelat Golkar NTT pada Kamis, 13 Agustus 2026 tersebut diproyeksikan dihadiri sekitar 2.500 kader. Bank NTT melihat jumlah peserta tersebut sebagai potensi untuk memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan formal.
Kalau peserta sosialisasi sebanyak 2.500 orang, kami menargetkan sekitar 10 persen menjadi calon nasabah,” kata Aloysius Geong dalam konferensi pers bersama awak media, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai produk bank. Masyarakat juga perlu memahami cara mengatur keuangan, memilih produk yang sesuai kebutuhan, memiliki tabungan, serta aktif melakukan transaksi melalui layanan perbankan.
Bank NTT juga menjadikan sosialisasi tersebut sebagai sarana memperkuat pemahaman masyarakat mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR). Edukasi dinilai penting agar calon debitur tidak hanya mengetahui akses pembiayaan, tetapi juga memahami mekanisme kredit, pengelolaan dana, serta kewajiban pengembalian pinjaman.
“Literasi tentang KUR penting sekali sebagai pintu masuk bagaimana masyarakat memahami produk keuangan, menjalankannya, termasuk mengelola kredit dan mengembalikannya,” ujar Alo.
Terbuka untuk Berbagai Kelompok Masyarakat
Alo menegaskan Bank NTT membuka ruang kerja sama literasi keuangan dengan berbagai organisasi dan lembaga. Edukasi perbankan, kata dia, tidak dibatasi oleh latar belakang organisasi maupun kelompok masyarakat tertentu.
“Kami terbuka kepada semua organisasi dan lembaga untuk menyampaikan literasi kepada masyarakat tanpa melihat siapa mereka dan tidak terikat indikasi apa pun,” tegasnya.
Ia menyebut kebutuhan edukasi perbankan juga datang dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk anggota DPRD NTT dan DPRD Kota Kupang yang meminta Bank NTT memberikan sosialisasi ketika menjalankan agenda reses.“Jadi siapa saja, lembaga organisasi keagamaan, sosial, profesi, organisasi politik sekalipun pasti kami layani,” kata Alo.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Bank NTT tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah nasabah, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas pemanfaatan produk keuangan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu menggunakan layanan perbankan secara bijak dan menjadikan akses pembiayaan sebagai instrumen untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Dalam konteks ekonomi daerah, perluasan literasi dan inklusi keuangan juga berpotensi memperkuat akses masyarakat terhadap pembiayaan formal, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan masyarakat yang selama ini belum optimal menggunakan layanan perbankan.
(Desy*)






