KUPANG, || Tidak ada lapangan luas, tidak ada gedung megah, bahkan operasional pembelajaran pun harus berlindung di balik dinding-dinding sempit sebuah rumah kontrakan di Perumnas Jalan Wairinding, Kelurahan Nefonaek.
Namun, keterbatasan sarana dan prasarana ini sama sekali tidak mampu memadamkan bara api nasionalisme di dada warga SMAS dan SMP Nesi Neonmat Kota Kupang.
Dengan tekad baja, mereka membuktikan bahwa semangat merayakan HUT RI ke-81 tidak bisa dibeli dengan fasilitas mewah, melainkan lahir dari ketulusan hati di tengah serba kekurangan.
Kepala SMA Swasta Nesi Neonmat, Simon Nesi, A.Md, mengungkapkan kepada wartawan media ini, Senin (17/8/2026), bahwa kegiatan yang berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 tersebut diikuti oleh seluruh 153 siswa dan 21 tenaga pengajar.
Di atas lahan terbatas itu, empat jenis lomba digelar dengan penuh kemeriahan: kuis pengetahuan, estafet air, makan kerupuk, dan desain poster.

“Meskipun dalam keterbatasan kami, itu tidak menjadi halangan untuk ikut serta memeriahkan HUT RI ke-81,” ungkap Simon Nesi dengan nada tegas, menolak alasan minimnya fasilitas sebagai penghambat kreativitas.
Yang membuat gebrakan sekolah ini semakin “menegangkan” dan menarik perhatian adalah bentuk apresiasi yang jauh melampaui ekspektasi.
Selain sertifikat, para pemenang lomba tidak hanya mendapat hadiah tunai, tetapi juga mendapatkan pembebasan uang sekolah selama dua bulan. Kebijakan berani ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah untuk meringankan beban orang tua dan memotivasi siswa berprestasi di tengah himpitan ekonomi.
Simon menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan rasa cinta tanah air dan kegembiraan dalam menyambut hari kemerdekaan. Ia berharap siswa dapat merasakan makna kemerdekaan secara nyata, sehingga memiliki pandangan masa depan yang lebih cerah.

“Kami berharap seluruh siswa menyambut HUT RI dengan senang dan gembira, kemudian merasakan kemerdekaan itu sendiri agar masa depan lebih cerah. Mereka harus menghargai bangsa sebagai anak negara, dan walaupun dengan keadaan terbatas, mereka tidak bosan tetap menyesuaikan hidup sesuai dengan perkembangan zaman,” harapnya.
Kegiatan di lingkungan sekolah kontrakan tersebut berhasil mengubah suasana sederhana menjadi pesta rakyat mini yang penuh keakraban.
Kolaborasi antara siswa SMP dan SMA, serta partisipasi aktif para guru, menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan nasionalisme tetap hidup subur, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membelenggu jiwa yang merdeka.
(Desy)






