KOTA BANDUNG, || Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memanfaatkan kopi sebagai instrumen diplomasi untuk memperkuat persahabatan, kolaborasi, dan kerja sama antarnegara dalam Gala Dinner Asia Africa Festival (AAF) 2026 bertema “Regenerative Coffee Diplomacy: From Origins to Dialogue” yang digelar di Plaza Balai Kota Bandung, Jumat (10/7/2026).
Mewakili Wali Kota Bandung, Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, mengatakan tema tersebut menggambarkan bahwa kopi tidak hanya menjadi komoditas atau minuman, tetapi juga simbol yang mampu menghubungkan berbagai bangsa melalui sejarah, budaya, perdagangan, hingga dialog lintas negara.
Dalam sambutan Wali Kota Bandung yang dibacakannya, Iskandar menegaskan Kota Bandung memiliki ikatan historis yang kuat dengan negara-negara Asia dan Afrika sejak Konferensi Asia Afrika 1955. Semangat Bandung, menurutnya, masih relevan sebagai fondasi moral dalam membangun solidaritas global di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.
“Semangat Bandung mengingatkan kita bahwa dialog lebih kuat daripada konflik, kerja sama lebih berharga daripada persaingan, dan keberagaman merupakan sumber kekuatan, bukan perpecahan,” ujar Iskandar.
Ia menilai dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, ketidakpastian ekonomi, transformasi digital, hingga dinamika geopolitik global. Karena itu, penyelesaiannya tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi, saling percaya, dan kemitraan yang setara antarnegeri.
Berangkat dari semangat tersebut, Gala Dinner Asia Africa Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang jamuan resmi bagi para delegasi, tetapi juga ruang diplomasi untuk mempererat hubungan antarpemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, serta masyarakat dari negara-negara Asia dan Afrika.
Diplomasi kopi menjadi fokus utama dalam perhelatan tersebut. Tema “From Origins to Dialogue” merepresentasikan perjalanan kopi yang berasal dari Afrika, berkembang di Asia, hingga menjadi bagian dari budaya masyarakat dunia. Menurut Iskandar, perjalanan tersebut mencerminkan bagaimana sebuah produk lokal mampu menjadi media komunikasi lintas budaya dan memperkuat hubungan antarbangsa.

Selain memperkenalkan filosofi kopi sebagai simbol persahabatan, Pemkot Bandung juga menampilkan ekosistem kopi yang berkembang di Kota Bandung dan Indonesia. Keberhasilan kopi nasional, kata Iskandar, tidak terlepas dari peran petani, pelaku UMKM, roaster, barista, industri kreatif, hingga generasi muda yang terus membawa kopi Indonesia dikenal di pasar internasional.
Di sisi lain, diplomasi berbasis budaya seperti kopi juga dinilai memiliki tantangan. Agar memberikan manfaat nyata, kolaborasi yang dibangun harus mampu menghasilkan peningkatan perdagangan, investasi, promosi pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.
Iskandar optimistis Asia Africa Festival dapat menjadi platform strategis yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, industri kreatif, generasi muda, dan masyarakat sipil untuk melahirkan inovasi serta solusi atas berbagai persoalan global sekaligus mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Iskandar mengajak seluruh delegasi menjaga semangat Bandung sebagai warisan sejarah yang terus menginspirasi hubungan Asia-Afrika. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para duta besar, kepala daerah, serta tamu dari berbagai negara yang hadir dalam Asia Africa Festival 2026.
Pada kesempatan itu, Iskandar turut menyampaikan permohonan maaf karena Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berhalangan hadir lantaran sedang menjalani perawatan kesehatan. Ia mengajak seluruh tamu undangan untuk mendoakan agar Wali Kota segera pulih dan dapat kembali menjalankan tugas melayani masyarakat.
(Dewi)






