KOTA BANDUNG, || Rencana beroperasinya kembali Bandara Husein Sastranegara diproyeksikan menjadi momentum untuk meningkatkan investasi dan kunjungan wisatawan ke Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung pun mulai menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung agar reaktivasi bandara mampu memberikan dampak maksimal bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri Selangor International Business Summit (SIBS) ASEAN 2026 Edisi Bandung di Hotel Pullman, Kamis (9/7/2026).
Farhan mengatakan, pemerintah telah menyelesaikan berbagai pembahasan terkait pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara yang nantinya akan melayani penerbangan domestik maupun internasional.
Untuk rute internasional, penerbangan direncanakan melayani Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Singapura. Sementara rute domestik diproyeksikan menghubungkan Bandung dengan Medan, Pekanbaru, Padang, Batam, Pontianak, Makassar, dan Denpasar.
Menurut Farhan, meningkatnya harga tiket pesawat akibat kondisi ekonomi global menjadi tantangan yang harus diantisipasi. Karena itu, peningkatan konektivitas harus diimbangi dengan penguatan daya tarik Kota Bandung sebagai destinasi investasi dan wisata.
“Yang harus kita lakukan adalah menjadikan Bandung, Jawa Barat, dan Selangor sebagai destinasi investasi dan wisata yang semakin menarik,” ujar Farhan.

Usai menghadiri forum tersebut, Farhan menjelaskan bahwa Pemkot Bandung terus mempersiapkan berbagai kebutuhan pendukung menjelang operasional kembali Bandara Husein. Fokus utama diarahkan pada pembenahan infrastruktur di sekitar kawasan bandara.
Pemerintah, kata dia, tengah melakukan perbaikan akses jalan menuju bandara, normalisasi drainase, serta peningkatan penerangan jalan umum (PJU). Sementara itu, pengelolaan parkir akan dilakukan oleh lembaga pengelola parkir yang bekerja sama dengan Lanud Husein Sastranegara.
Di sektor transportasi, untuk tahap awal akses menuju bandara masih akan mengandalkan layanan taksi yang bekerja sama dengan pihak Lanud Husein Sastranegara. Namun ke depan, Pemkot Bandung berencana menghadirkan layanan shuttle yang menghubungkan pusat kota dengan bandara guna mempermudah mobilitas penumpang.
“Kami ingin mendesain agar nantinya ada shuttle dari pusat Kota Bandung ke bandara. Saat ini konsepnya masih terus dimatangkan,” katanya.
Farhan memperkirakan Bandara Husein mulai kembali melayani penerbangan pada rentang Agustus hingga September 2026. Sejumlah maskapai, lanjutnya, telah menyatakan kesiapan membuka kembali layanan penerbangan domestik maupun internasional.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa reaktivasi bandara bukan jaminan otomatis meningkatnya jumlah wisatawan maupun investasi apabila kesiapan daerah belum optimal.
“Reaktivasi Bandara Husein dengan delapan destinasi domestik dan tiga destinasi internasional tidak serta-merta langsung menjadi pendorong apabila kitanya tidak siap. Dalam waktu kurang dari dua bulan ini, kami akan mendorong seluruh kesiapan agar Bandung benar-benar siap menerima kembali penerbangan,” tegasnya.
Menurut Farhan, keberhasilan reaktivasi Bandara Husein sangat bergantung pada kemampuan Kota Bandung menghadirkan pengalaman wisata dan iklim investasi yang kompetitif. Dengan demikian, meskipun harga tiket pesawat berpotensi meningkat, wisatawan maupun investor tetap memiliki alasan kuat untuk memilih Bandung sebagai tujuan perjalanan dan investasi.
(Dewi)






