Sergap.co.id
Kelurahan Cigondewah Rahayu, Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung, 24 juli 2026 terus mendorong inovasi berbasis masyarakat melalui dua program unggulan, yakni ASRI (Arisan Sampah Rumah Inovatif) dan Sibadak (Sistem Bank Data Kelurahan). Kedua inovasi tersebut hadir sebagai upaya meningkatkan kepedulian warga terhadap lingkungan sekaligus memperkuat tata kelola data guna mendukung pelayanan publik yang lebih efektif.
Program tersebut dibahas dalam Sonata Talkshow yang diselenggarakan Radio Sonata Rabu, 24 Juni 2026. Talkshow menghadirkan narasumber Bunga Anggriani Silalahi, S.A.B., M.A.P., Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Cigondewah Rahayu, serta Lisma Apriliani, S.E., Sekretaris Kelurahan Cigondewah Rahayu.
Melalui program ASRI, masyarakat diajak untuk lebih aktif dalam mengelola sampah rumah tangga dengan konsep yang sederhana namun bernilai ekonomi. Warga mengumpulkan sampah yang telah dipilah, kemudian menimbangnya di bank sampah. Hasil penjualan sampah tersebut selanjutnya dapat dicairkan menjadi dana bagi peserta.
Konsepnya seperti arisan. Kalau arisan biasa yang dikumpulkan adalah uang, sedangkan Asri yang dikumpulkan adalah sampah. Sampah dikumpulkan, ditimbang di bank sampah, kemudian dijual dan hasilnya bisa dicairkan, ujar Bunga.
Menurutnya, program yang baru berjalan sekitar satu bulan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Untuk mendukung hal tersebut, kelurahan berencana membagikan buku saku sebagai panduan bagi warga dalam memilah dan mengelola sampah.
Harapannya warga bisa lebih peka terhadap sampah, mulai dari memilah hingga mengelolanya dengan baik, katanya.
Dengan jumlah penduduk sekitar 9.000 jiwa yang tersebar di 8 RW, partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan program pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Selain ASRI, Kelurahan Cigondewah Rahayu juga mengembangkan Sibadak atau Sistem Bank Data Kelurahan. Inovasi ini lahir dari kebutuhan akan data yang terintegrasi dan mudah diakses untuk mendukung pelayanan publik.
Lisma Apriliani menjelaskan, selama ini pengumpulan data sering kali membutuhkan waktu karena harus dilakukan kembali dari awal setiap kali ada permintaan data dari berbagai pihak.
Ketika ada permohonan data, kami harus kembali mendorong kader untuk mengisi data. Itu membutuhkan waktu, sementara kader juga memiliki banyak tugas lain, seperti Posyandu, PKK, RT/RW, bahkan ada yang bekerja, jelasnya.
Melalui Sibadak, berbagai data yang sebelumnya tersebar di banyak sumber akan dihimpun dalam satu sistem sehingga proses pelayanan dan pemenuhan kebutuhan data dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
Bagaimana caranya data-data yang tersebar ini bisa ada dalam satu wadah, supaya memudahkan dan mempercepat layanan, termasuk pemenuhan kebutuhan data ke OPD maupun wali data, ujarnya.
Pada tahap awal, Sibadak akan memuat 30 data dasar sebagai fondasi sistem. Selanjutnya, data yang tersedia dalam portal data dasar akan diintegrasikan secara bertahap ke dalam platform tersebut.
Sibadak nantinya akan memasukkan data terbaru secara cepat, dan masyarakat juga bisa melihat melalui dashboard yang tersedia. Harapannya semua bisa bergerak berdasarkan data, kata Lisma.
Pengembangan sistem ini akan dilakukan secara bertahap. Dalam jangka pendek, fokus diarahkan pada penyempurnaan dashboard. Pada tahap menengah, implementasi akan diperluas ke dua kelurahan sebagai lokasi percontohan di Kecamatan Bandung Kulon. Adapun dalam jangka panjang, data yang dikelola melalui Sibadak direncanakan terintegrasi dengan sistem data Kota Bandung melalui Diskominfo.
Sumber : Kepala Diskominfo Kota Bandung
(Jaka)






