Kecepatan Menggoda, Verifikasi Menyelamatkan: Catatan 30 Tahun M. Hasanuddin di Jurnalistik

Caption : Dokumentasi kegiatan jurnalistik di Sumatera Village Resort, Medan, 13–16 Desember 1996. Foto: Arsip Pers/Dok. Pribadi.

SERGAP.CO.ID

NAGAN RAYA, ACEH, || Wartawan senior M. Hasanuddin mengingatkan rekan pers di Nagan Raya agar tidak terjebak kecepatan semu di era digital. Verifikasi, kata dia, adalah batas tipis antara informasi yang mencerdaskan dan yang menyesatkan.

Bacaan Lainnya

Pesatnya perkembangan teknologi digital membuat informasi menyebar dalam hitungan menit melalui media sosial dan portal daring. Kondisi ini menempatkan media pada pilihan sulit antara kecepatan penyampaian dan ketepatan isi berita.

Hal itu disampaikan Hasanuddin dalam diskusi pers bertajuk “Antara Kecepatan dan Ketepatan Informasi di Era Digital” di Alue Bilie, Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Minggu, 17 Mei 2026. Hasanuddin yang aktif di dunia jurnalistik sejak 1996 menilai tekanan untuk menjadi yang pertama sering membuat proses verifikasi terabaikan.

“Ruang digital memberi kesempatan bagi siapa saja menyampaikan informasi. Persaingan mendapat perhatian publik jadi semakin ketat,” katanya.

Ia mengingatkan, berita yang cepat tapi belum terverifikasi berpotensi menimbulkan misinformasi. Informasi keliru mudah membentuk opini publik, sementara koreksi jarang mendapat perhatian luas.

Menurutnya, ketepatan informasi memerlukan verifikasi, konfirmasi sumber, dan pencocokan data. Meski memperlambat publikasi, tahapan itu penting agar berita tidak menyesatkan.

“Dalam jurnalistik profesional, ketepatan tetap menjadi standar utama di atas kecepatan,” ujarnya.

Caption: : M. Hasanuddin saat mewawancarai Bupati Aceh Selatan Drs. Sari Subki, Tahun 1990-an di Pendopo Bupati setempat. Foto: Arsip Pers dokumentasi Istimewa/Dok. Pribadi.

Hasanuddin menyebut model pemberitaan bertahap kini mulai diterapkan. Informasi awal yang sudah terverifikasi disampaikan lebih dulu, lalu diperbarui sesuai perkembangan fakta.

Ia juga menekankan pentingnya kerja tim. Pembagian tugas antara reporter, editor, dan fact-checker dinilai mutlak agar kecepatan tetap terjaga tanpa mengorbankan akurasi.

Hasanuddin turut mengenang Rapat Kerja Nasional Wartawan Majalah Berita Detektif Spionase se-Indonesia di Sumatera Village Resort Medan, 13–16 Desember 1996, tempat ia berkarya di era jurnalistik tempo dulu. “Foto dokumentasi itu jadi pengingat panjangnya perjalanan kami di dunia jurnalistik,” katanya.

Hasanuddin juga menceritakan proses peliputan dan pengiriman berita di era redaksi tempo dulu. Pada 1995–1996, wartawan mencatat semua temuan di buku catatan saat turun ke lapangan. Setelah kembali, catatan itu dibuka lalu diketik di mesin ketik merek Olympia sesuai keterangan narasumber.

Jika naskah sudah selesai diketik, foto atau klise film dibawa ke studio foto di Meulaboh, Aceh Barat, untuk dicuci dan dicetak sesuai kebutuhan. Setiap foto diberi keterangan kejadian dan lokasi.

Caption:
M. Hasanuddin (kiri) saat berdiskusi bersama rekan wartawan beda generasi di Alue Bilie, Nagan Raya, Minggu 17 Mei 2026.

Naskah dan foto kemudian dimasukkan ke amplop putih ukuran folio, lalu ditulis alamat kantor Redaksi Majalah Berita Detektif Spionase di Jalan Siswo Miharjo/Jalan Perdana, Medan. Pada masa itu, pendiri majalah Detektif Spionase adalah Alm. Drs. H. Ibrahim Sinik, tokoh pers senior asal Sumatera Utara.

Pengiriman dilakukan lewat bus umum PMTOH rute Meulaboh–Medan. Setibanya di Medan, wartawan menghubungi redaksi lewat telepon umum atau telepon rumah. Mereka mengabarkan ke redaktur pelaksana bahwa naskah sudah dikirim via bus PMTOH.

Setelah majalah dicetak di percetakan Medan Pos Group, sebanyak 75 eksemplar sesuai permintaan dikirim kembali ke Meulaboh menggunakan bus yang sama, kenang Hasanuddin.

“30 tahun berlalu, cara boleh berubah, tapi prinsipnya tetap sama: verifikasi dulu, baru publikasikan,” pungkas M. Hasanuddin.

(H@r)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *